Agustina M. Purnomo
Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor,; Dosen Fisip Universitas Djuanda

Mudik merupakan tradisi yang berurat berakar di Indonesia. Lebaran tanpa mudik bak sayur asam tak berasam. Hilang makna. Betulkah begitu? Nyatanya H-2 sebelum lebaran pemudik masih memaksa untuk kembali ke kampung halaman. Kompas TV hari ini menyiarkan perbatasan Bekasi-Karawang, Jalur Pantura dan Pelabuhan Merak dipenuhi pemudik bermotor. Beragam cara dilakukan untuk menembus penjagaan petugas termasuk memblokade jalan, mencari jalan tikus, mengambil waktu yang dianggap tepat, bersembunyi di moda angkutan barang, sampai mencari celah kelengahan petugas.

Angka kasus Covid-19 per tanggal 11 Mei 2021 adalah 1.723.596 kasus dengan pertambahan kasus 5.021 kasus. Angka tersebut meningkat dari tanggal 9 Mei yang mengkonfirmasi 3.922 kasus namun menurun jauh dari konfirmasi kasus tanggal 31 Januari 2021, 12.001 kasus. DKI Jakarta dan Jawa Barat masih menjadi kawasan dengan konfirmasi kasus tertinggi dengan angka persentase kasus 24,2% dan 17,0%.

Akankah mudik menambah kasus Covid-19 di daerah?

Sumber: https://covid19.go.id/peta-sebaran-covid19

Jawabannya adalah mungkin sekali. Sifat penyebaran Covid-19 adalah melalui kontak antara penderita dengan non penderita. Physical distancing disarankan berdasarkan penelitian bahwa covid-19 menyebar melalui droplets yang dapat berpindah dari seorang carrier kepada orang lain. Studi Qiu et.al. (2020) menemukan keluarga merupakan tempat penyebaran Covid-19.

Baca Juga  Nafsu Materialistik Dengan Pemalsuan Tanda Tangan Sertifikat Tanah

Masih segar ingatan kita kasus keluarga artis yang terkena Covid-19 secara berjamaah sekeluarga. Kasus keluarga artis Ussy Sulistiawaty, 8 anggota keluarga terkena covid. Kasus keluarga artis Anang Hermansyah, 4 orang anggota keluarga terkena covid dan terakhir kasus keluarga artis Joana Alexandra, 10 anggota keluarga terkena covid. Kasus artis Joana Alexandra menyebabkan meninggalnya sang suami, Raditya Oloan.

Keluarga potensial menjadi sarana penyebaran Covid-19 karena physical distancing sulit dilakukan di dalam keluarga. Makan bersama merupakan momen di mana masker dilepaskan. Ngobrol bersama keluarga bahkan tidur tidak lagi dapat mempertahankan physical distancing. Lebaran merupakan momen silaturahmi antar-keluarga, melepas kangen dengan orang tua dan saudara, dan tentunya makan bersama. Lantas apakah pemudik dapat mempertahankan physical distancing? Silahkan dijawab oleh pemudik.

Di masa pandemi, mudik tidak sekedar menjadi masalah kultural, namun menjadi masalah sosial-politik. Kebijakan pemerintah yang berubah-ubah disorot sebagai penyebab utama tetap berlangsungnya covid. Pengetatan pemeriksaan sebagai penegakan kebijakan menjadi sorotan selanjutnya. Isu masuknya WNA terutama India dan Cina di minggu-minggu terakhir menjelang mudik menggoyang kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Baca Juga  Wahyu Hidayat : Pendidikan Indonesia Inferior

India sedang mengalami krisis covid gelombang II dan Cina selalu seksi untuk didiskusikan di kalangan masyarakat. Isu wisata, mall dan pasar yang tetap buka mengaburkan esensi dari pelarangan mudik. Akumulasi dari semuanya adalah kebijakan pelarangan mudik menjadi kehilangan esensi, menjaga penyebaran covid antar-daerah. Kebijakan pelarangan mudik lebih dianggap sebagai bentuk ketidak-jelasan pemerintah.

Membicarakan pemerintah selalu menjadi isu hangat bahkan panas. Namun, membicarakan mudik terlepas dari isu sosial-politik adalah isu keluarga. Masyarakat Indonesia masih memiliki keterikatan dengan keluarga. Sejauh apapun pergi, pasti ada saat untuk kembali ke keluarga. Mudik adalah simbol kembalinya seseorang ke keluarganya (Yulianto, 2011). Kembali kepada pemudik, apakah lebaran kali ini akan membawa pulang oleh-oleh Covid-19 untuk keluarga atau memastikan agar keluarga aman dari resiko penularan Covid-19.

Penekanan pada kesadaran pribadi merupakan solusi beresiko. Masyarakat Indonesia tidak seluruhnya mempercayai resiko Covid-19. Sifat dari dampak inveksi Covid-19 yang bervariasi dari fatal hingga kematian sampai Orang Tanpa Gejala menyebabkan sebagian masyarakat ada yang tidak mempercayai Covid-19 benar-benar berbahaya bahkan benar-benar ada. Kelompok masyarakat yang tidak mempercayai bahaya dari inveksi Covid-19 tidak dapat diharapkan untuk dapat bertanggung–jawab terhadap resiko untuk keluarga mereka.