Orang-orang yang dicap radikal itu dikirim ke kamp. Lalu, di tempat itu mereka diperlakukan secara buruk.
“Selama re-education tidak boleh shalat, tidak boleh baca Al-Quran, tidak boleh puasa, makan apa adanya yang disajikan oleh pemerintah. Dan itu under heavy surveillance, itu CCTV every corner,” kata dia.
Muhyiddin mengklaim sempat melayangkan protes kepada Ketua China Islam Association (CIA) Abdul. Namun ia tetap berpegang kepada konstitusi China soal kebebasan beragama.
“Menyedihkan, kami diskusi dengan wakil ketua CIA, ‘Bagaimana ini, yaa Abdul?’ Abdul bilang dia salatnya dirapel delapan bulan, satu bulan, satu minggu. Kalau orang di Indonesia salatnya dirapel, satu tahun kali lima berapa itu? Versi mereka boleh-boleh saja,” tutur dia.
Muhyiddin berkata para delegasi telah membuat laporan dan rekomendasi terkait laporan China ke Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Mereka sengaja tak mengumumkan ke publik karena tak ingin melangkahi peran pemerintah.
“Saya enggak tahu apakah Bu Retno sudah panggil Dubes China. Kami berpikir positif saja,” tutur dia.
“Kami tegaskan no money, no corruption. Kami ormas Islam tetap istiqamah, tidak akan menjual agama dengan harga sangat murah,” tegasnya.

