Episode kehidupan umat manusia – 100 detik menjelang tengah malam. Kiamat tak lama lagi. Menurut Doomsday Clock, pada 2020, dunia dalam agenda bencana global: jarum jam simbolik itu merapat ke angka 24.00.

Kita tidak membicarakan agenda kiamat yang menjadi ketetapan tuhan, tapi kita akan membicarakan kecerobohan dan kesombongan umat manusi di abad ke-21. Misi kehidupan kini adalah untuk hidup abadi atau melawan kematian. Seorang ilmuwan terkemuka Ray Kurzweil – peraih Us National Medal of Teknology and Innovation tahun 1999—pada 2012, Kurzweil ditunjuk menjadi direktur rekayasa di Google, dan tahun berikutnya Google meluncurkan anak perusahaan yang diberi nama Calico dengan misi “mengatasi kematian”.

Baca Juga  Menjaga Ukhuwah Dengan Kebersamaan Memerangi Hoax Demi Keutuhan NKRI

Tidak hanya Kurzweil, pada Januari 2015, dalam sebuah wawancara Bill Maris pemimpin peruhasaan pengelola investasi Google Venture mengatakan, jika kamu tanya saya hari ini apakah mungkin hidup sampai 500 tahun, jawabannya adalah ya. Maris menopang kata-kata beraninya dengan banyak uang tunai.

Kita tak lagi hidup di tahun 1991. Waktu itu jarum jam simbolik itu—yang dikelola pengurus Bulletin of the atomic scientist sejak 1947 – berada pada menit ke-17 sebelum tengah malam. Cukup jauh. Waktu itu manusia merasa terlepas dari bencana kehancuran bersama oleh perang nuklir. Amerika Serikat dan Unisoviet, dua negara yang daya destruktifnya bisa meluluhlantakkan bumi dan manusia, akhirnya bersepakat mau menanggalkan senjata pemungkas itu.

Baca Juga  Headline Bogor | Masyarakat Kabupaten Bogor Yang Cerdas Memilih Putra Daerah

Tapi kini keadaan berbalik dan menggelisahkan. Dalam edisi 23 Januari 2020, Bulletin of the atomic scientist yang dikelola oleh Science and Security Board, University of Chicago, Amerika Serikat. Mengumumkan bahwa semakin kita dekat menuju tengah malam—bencana global mejadi sangat mengkhuatirkan.