Generasi yang lahir setelah 1960-an tak bisa membayangkan rasa ngeri itu. Sejak bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hirosima pada 1945, orang tahu bahwa senjata nuklir-berpuluh kali lebih ganas ketimbang dua bom yang mengalahkan jepang itu—akan menghabisi Manusia. Tapi yang menakutkan bukan hanya ledakannya yang membunuh ratusan juta, tapi juga yang menyusul: radiasi nuklir akan menyebar.

Film terkenal On the Beach (1959) menggambarkannya dengan muram. Alkisah, perang dunia III telah menghabisi sebagian besar bumi. Hanya di Australia sisa-sisa manusia mencoba saling menopang. Tapi pengharapan punah. Pemerintah membagikan pil bunuh diri agar penduduk bisa mati cepat, lebih baik ketimbang menderita sakit terkena radiasi yang merusak pelan-pelan.

Baca Juga  Agustina M. Purnomo : Modal Sosial dan Physical Distancing

“Siapa yang akan menyangka manusia begitu bodoh hingga meledakkan diri lenyap dari bumi?” kata John Osborne, tokoh ilmuwan dalam On the Beach.

Tapi kini bukan karena bodoh manusia menggerakkan kiamat. Bulletin of the Atomic Scientist: memperingatkan tiga hal yang menyeret manusia ke 100 detik tengah malam. Pertama: perang nuklir yang sewaktu-waktu bisa meledak. Kedua: perubahan iklim. Ketiga perkembangan teknologi yang tak terkendali.

Dalam ketiga hal itu, manusia tak bodoh. Ia serakah.

Pertama: perang nuklir. Bisa kapan saja remotnya ditekan oleh Iran dan Korea Utara atas keserakahannya untuk menyaingi Amerika Serikat dan China dengan tujuan menjadi negara adikuasa di planet bumi yang perlu kita selamatkan ini. Kedua negara ini telah berkali-kali mempertontonkan kepada umat manusia menyaksikan pengerahan peralatan, persenjataan, serta wahana angkutan yang lebih modern dibandingkan arterfak Perang Dunia I pada 1914-1918. Siapa yang akan menjamin Iran dan Korea Utara tidak untuk berbuat gila—yang rakus ingin jadi pemenang monopoli kebenaran untuk menghabisi musuhnya?

Baca Juga  Deky Ikwal Pratama : Jihad Dan Islam Rahmatan Lil Alamiin