Kedua: perubahan iklim. Kita tahu akibatnya, ketika hutan ditebang, sungai dan laut menjadi tempat sampah. Orang makin berlomba atas keserakahan melontarkan balerang dioksida keangkasa dari mobil dan sepeda motor yang makin bejibun. Lapisan ozon rusak, matahari seakan-akan langsung membakar, bumi kian tarik. Menurut Panel of Climate Change, kini udara lebih panas 1 derajat Celsius ketimbang 160 tahun yang lalu, dan itu sudah cukup membuat gunung es meleleh, permukaan laut naik, banjir makin melanda, dan kekeringan lebih sering. Angka 1 derajat itu akan segera bertambah. Balerang dioksida adalah indeks kecerobohan dan keserakahan kita, jalan kiamat kita.

Kecerobohan dan keserakahan bukan cuma berlebihan mengkomsumsi dan memiliki—dulu Homo Sapiens serba kekurangn kini serba berlebihan akibat keserakahan dan kecerobohan. Kecerobohan dan keserakahan adalah sikap tak peduli efek buruk kelebihan komsumsi., sebuah mala petaka yang menuntut kesadaran kita. Sebenarnya: “Dunia cukup buat memenuhi kebutuhan tiap orang, tetapi tak akan cukup buat memenuhi kerakusan tiap orang”, kata Mahatma Gandhi, memperingatkan.

Baca Juga  Catatan Rubayyi' Aktivis dan Pengamat Pergerakan Mahasiswa

Mungkin semua itu kini akan dicemoohkan oleh Donald Trump. Presiden Narsis orang Amerika, apa boleh buat memilih seorang presiden yang menolak kesepakatan dunia untuk merawat lingkungan. Dan yang mengjengkelkan adalah Trump mengejek “nyanyian palsu globalisme”. Kejayaan Amerika dan dirinya itu bukan sekedar narsisme, tetapi juga sikap rakus yang merusak tatanan dunia.

Ketiga: teknologi. Mungling ini bagian keserakahan utama modern. Tidak ada jaminan, memang, bahwa perdamaian tegak selamanya, maka mungkin saja perkembangan teknologi menyiapkan gelangang jenis-jenis baru perang. Yang terutama, perang Cyber bisa tidak menstabilkan dunia, bahkan hanya dengan memberi kekuatan pada negara-negara kecil atau akto-aktor non-negara untuk memerangi negara adikuasa secara efektif. Ketika memerangi Irak pada 2003, Amerika Serikat membawa kekacauan di Baghdad dan Mosul, tetapi tak satupun bom dijatuhkan di Los Angeles atau Chicago.

Namun, dimasa depan, negara seperti Korea Utara Dan Iran bisa menggunakan bom-bom logika untuk mematikan listrik di California, meledakkan sarana-sarana pengilangan minyak di Texas, dan menyebabkan kereta api bertabrakan di Michigan—itulah perang masadepan—”bom logika”, adalah sandi-sandi perangkat lunak jahat yang ditanam pada masa damai dan dioperasikan dari jarak jauh. Sangat mungkin bahwa jaringan yang mengendalikan fasilitas-fasilitas infrastruktur vital di banyak negara sudah dijejali sandi-sandi algoritma semacam itu.

Baca Juga  Bayang-Bayang Oligarki Di Balik Konflik Internal Partai Politik

Disituasi inilah kita hidup hari ini—era post-fact—era yang berbahaya karena berbagai alasan. Inilah situasi perang kita era baru. Era dimana kita menjadi kerap bercanda dengan maut dan kehancuran, tampa batas yang jelas—kata kolumnis Joseph Roth dan Ernst Jünger.

Kiamat mungkin dimulai dari: serakah, cemas, dan ceroboh. Siapa yang mampu membebaskan manusia dari arah yang salah ini? mungkin para pendeta, ustad, dan ilmuwan akan menjawab Tuhan lah yang bisa menolong. itu mungkin suara yang sulit diterima saat ini. Tapi kita butuh tuhan untuk berbisik: ada sesuatu yang lebih kuat ketimbang harapan—entah apa, yang bisa membuat kita bisa ingat betapa berartinya kemanusia di dunia ini.

Wahyu Hidayat Lubis

(Aktivis Himpunana Mahasiswa Islam & Mahasiswa Universitas Pakuan)