OPINI – Physical distancing dilakukan berdasarkan penelitian bahwa covid-19 menyebar melalui droplets yang dapat berpindah dari seorang carrier kepada orang lain. Jarak 1-1,5 m dianggap sebagai jarak aman. Saat berkumpul, bekerja atau melakukan aktivitas bersama tentu sulit mempertahankan jarak aman ini.

Penelitian yang menyebutkan bahwa covid-19 dapat bertahan di benda-benda tertentu menyebabkan adanya kemungkinan orang sehat tetap dapat tertular meskipun telah menjaga jarak aman dengan carrier. Kebiasaan menyentuh mulut, hidung dan menggosok mata menyebabkan kemungkinan ini semakin besar.

Tidak pernah ada jaminan apakah seseorang dapat menjaga dirinya selalu dalam jarak aman, tidak memegang benda yang terkena droplets covid-19 atau tidak menyentuh mulut, hidung dan menggosok mata selama berinteraksi dengan carrier. Oleh karenanya gerakan di rumah saja menjadi satu-satunya upaya yang dapat dilakukan.

Baca Juga  Headline Opini | Kuli Penopang Nasib Bangsa

Pandemi covid-19 dan anjuran melakukan physical distancing menyisakan pertanyaan, apakah covid-19 akan menyebabkan kita kehilangan kekerabatan, kehangatan hubungan dengan saudara, tetangga, rekan pengajian, sesama orang tua murid atau teman-teman sepekerjaan ?

Physical distancing menggerus kebiasaan yang telah membudaya di sebagian besar masyarakat Indonesia. Bersalaman, berpelukan dan cipika cipiki merupakan kebiasaan yang menghangatkan sebuah pertemuan. Gathering atau makan-makan menjadi budaya sebagian besar perusahaan dan komunitas.

Baca Juga  Headline Bogor | Bambang Aribowo, S.Pd.MM : Republik Of Anekdot

Kita tentunya mengenal dengan baik makan-makan bersama sebelum bulan puasa yang dikenal dengan istilah cucurak, dan pertemuan setelah hari raya idul fitri yang dikenal dengan istilah Halal Bil Halal. Arisan, persiapan hajatan di desa-desa, peringatan hari keagamaan, ulang tahun dll selalu ditandai dengan berkumpul.