Pastikan orang-orang tersayang, rekan kerja dan saudara kita dapat ditemui dalam keadaan sehat saat badai pandemik ini berlalu. Ini lebih membahagiakan daripada menemui mereka di tempat peristirahatan terakhirnya.
Kedua, kemajuan teknologi menyebabkan batas-batas fisik dapat dikurangi. Fisik bisa saja tidak berdekatan. Tetapi komunikasi tetap dapat dilakukan. Saat ini rapat dan mengajar dapat dilakukan melalui media online. Menelpon keluarga dapat menggunakan video call.
Kedekatan emosional, hubungan sosial dan pekerjaan masih dapat dilakukan melalui media-media sosial. Keberadaan media saat melakukan physical distancing dapat mendukung perubahan kebiasaan dari komunikasi langsung menjadi komunikasi melalui media sebagai proses adaptasi terhadap keterbatasan untuk melakukan komunikasi langsung.
Ketiga, jangan lama-lama. Bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan hubungan sosial secara fisik, berkomunikasi via media online tentunya tidak sama dengan bertemu langsung. Kebosanan tinggal di rumah, tekanan isu media dan perasaan takut dapat membuat orang tidak tahan dan memerlukan interaksi fisik dengan keluarga, rekan kerja atau tetangga.
Di sisi lain, banyak karakter pekerjaan yang tidak dapat menunda lama untuk tidak melakukan interaksi fisik. Pada jangka panjang physical distancing tidak hanya mempengaruhi modal sosial. Industri manufaktur, retail, industri jasa angkutan, industri jasa pariwisata dan makanan, serta industri yang mengandalkan produksi massa akan hancur. Pada satu titik, modal sosial tentunya bukan satu-satunya pertimbangan. Keberlanjutan ekonomi dan modal kapital menjadi mutlak untuk diperhatikan. Untuk itu, physical distancing jangan lama-lama.
Agustina M. Purnomo
(Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor, Puspaga Kota Bogor, Kahmi Bogor, dan Dosen di Universitas Djuanda)