Ngobrol lama sambil ngopi atau ngeteh bersama teman atau sejawat atau kita kenal sebagai “nongkrong” bahkan telah diakui sebagai kebiasaan masyarakat Indonesia oleh The New York Times (Mei 2012) dengan mengartikan nongkrong sebagai “……. a word for sitting, talking and generally doing nothing : nongkrong”.

Apakah benar berkumpul bagi masyarakat Indonesia adalah doing nothing?

Sejak lama kita mengenal modal sosial. Menurut UN-Habitat (2016) aspek sosial merupakan aspek penting kesejahteraan manusia. Hal ini disepakati oleh OECD (2015). Kebahagiaan dan hubungan sosial yang baik mendukung kualitas kesehatan (Arundel Ronald, 2017; Glaeser, Henderson & Inman, 2000), mendukung kualitas kehidupan (Hamdan, Yusof, & Marzukhi, 2014) dan mendukung keberlanjutan kehidupan sosial di perkotaan (Yoo & Lee, 2016).

Baca Juga  Negara Tidak Boleh Justifikasi Rasisme Dan Papua Phobia Dengan Kriminalisasi Rakyat Papua

Berkumpul atau nongkrong bukan hanya sekedar kebiasaan yang tidak berarti apa-apa. Di dalam aktivitas berkumpul atau nongkrong terdapat upaya untuk melepaskan kepenatan bekerja, menjalin jejaring kerjasama dan membangun kedekatan hubungan yang keseluruhannya berdampak pada kesehatan sosial, dan juga ekonomi. Seorang Muslim mengenal istilah “silaturahmi mendatangkan rejeki” dan ilmu manajemen memperkenalkan istilah “If everyone is moving forward together, then success takes care of itself” (Henry Ford).

Berkumpul bagi masyarakat Indonesia adalah doing something. Something important.

Lantas apakah covid-19 melalui anjuran physical distancing merusak sesuatu yang penting tersebut? Beberapa hal dapat menjadi pertimbangan.

Pertama, ada saatnya mengorbankan sesuatu yang penting untuk hal yang lebih penting. Physical distancing saat ini dilakukan untuk menyelamatkan jiwa manusia. Tidak ada penelitian yang dapat memastikan bahwa sesorang akan sepenuhnya dapat terhindar dari paparan covid-19 dan terlebih lagi tidak ada penelitian yang menemukan bahwa setelah terkena virus seseorang dapat bertahan hidup.

Baca Juga  Demokrasi Dikebiri, Mosi Tidak Percaya dan Aksi Perlawanan Harus Digaungkan

Kekuatan imunitas tubuh manusia yang diyakini dapat menyebabkan sesorang bertahan dari serangan covid-19 menjadi sangat relatif. Ilmu kedokteran memperkenalkan badai cytokine untuk menjelaskan bagaimana imun tubuh yang berlebihan juga berdampak buruk bagi daya tahan tubuh dalam menghadapi serangan covid-19. Tidak adanya obat dan belum ditemukannya vaksin pencegah covid-19 menyebabkan waspada untuk mencegah penularan sebagai satu-satunya hal yang dapat dilakukan saat ini.