
OPINI – Tahun 2019 ini baru saja kita masyarakat Indonesia melakukan pesta demokrasi yakni pemilihan presiden dan pemilihan calon legislatif yang kita laksanakan serentak pada 17 April 2019 lalu. Dengan segala problematika yang ada, suasana yang cukup menegangkan dimasyarakat dan pada akhirnya saat ini telah ditetapkan dan dilantik Presiden RI kita pada 20 Oktober 2019 yang lalu.
Namun tidak sampai disitu, sebagian masyarakat didaerah-daerah khususnya daerah Kabupaten Bogor pada tanggal 3 November 2019 nanti akan menyelenggarakan acara pesta demokrasi Pemilihan Umum Kepala Desa (PILKADES) secara serentak. Menurut media Tempo ada 1.064 Calon Kepala Desa atau Cakades. Dalam acara Deklarasi Damai di Gedung Utama Tegar Beriman Bupati Bogor Ade Yasin meminta kepada seluruh peserta pilkades untuk dapat bersikap dewasa. “Kita tunjukkan Kabupaten Bogor dewasa dalam berdemokrasi tanpa ada gelas yang pecah” Ujar Bupati Bogor Ade Yasin.
Sebagian besar kalangan pemuda Indonesia telah menunjukkan antusiasme nya dalam pemilihan presiden dan pemilihan calon legislatif 2019 lalu. Namun masih banyak oknum-oknum yang memandang dan menjadikan sosok pemuda ini sebagai sasaran empuk politis. Maka sudah seharusnya kita selaku pemuda responsif terhadap apapun yang sedang terjadi dilingkungan sekitar.
Karakteristik pemilih berdasar hasil riset ini bermacam-macam. Pertama adalah pemilih rasional, pemilih ini mengutamakan rekam jejak dan program yang dijanjikan sekaligus menganalisis kemungkinan-kemungkinan program tersebut relevan untuk dikerjakan atau tidak. Kedua, pemilih yang berdasarkan kekerabatan.
Dan yang ketiga pemilih yang tanpa dasar apapun kecuali uang, calon pemilih yang ketiga sangatlah berbahaya, karena tanpa dasar, tanpa idealisme, tanpa menganalisa kebutuhan wilayah dengan program kerja yang dijanjikan calon, mereka sangat memungkinkan untuk memilih calon pemimpin yang salah dan tidak baik bagi masyarakat dan juga lingkungan. Selaku kaum muda seharusnya dapat menjadi pemilih yang rasional, memilih berdasarkan kepentingan wilayah atau lingkungan dan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat baik para orang tua maupun kaum muda.
Di era industri 4.0 hari ini sudah seharusnya para pemuda dapat menjadi gerbong terdepan dalam hal apapun salah satunya per-politikan. Stigma yang tersebar dimasyarakat bahwa politik itu kejam dan negatif baiknya kita singkirkan terlebih dahulu dengan mempelajari mencari tahu lebih dalam lagi dalam rangka mengembangkan diri. Jangan stigma tersebut menjadikan jiwa pemuda ini hilang arah atau bahkan menjadikan Apatis, justru dengan pemuda apatis lah yang akan menjadi sasaran empuk para politis.
Mengutip tulisan Ramlan Surbakti dalam bukunya Memahami Ilmu Politik, “Politik itu merupakan suatu interaksi terhadap pemerintah serta masyarakat mengenai dari segi proses pembuatan dan juga pelaksanaan pada suatu keputusan terkait dengan berbagai kebijakan bersama masyarakat yang menetap pada wilayah yang sama”.
Maka dari itu selaku kaum muda jangan lagi apatis terhadap persoalan ini, mengutip sedikit tulisan Tan Malaka dalam bukunya mengatakan “Idealisme merupakan keistimewaan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Jangan sampai masa depan wilayah menjadi bobrok karena tidak adanya campur tangan pemuda yang menjunjung tinggi idealisme, rasional, analitis, kritis dan universal terhadap persoalan yang ada disekitar.
Oleh : Tomi Ardiansyah
(Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam)
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !