
Dalam Dialog tersebut, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Ibu Dr. Yenti Garnasih S.H., M.H. mengajak mahasiswa untuk turut serta bersama bersinergi dan memahami konsep 4 pilar kebangsaan. Yenti Garnasih menyebutkan konsep 4 pilar yang pernah disampaikan ketua MPR 2009-2014 dimana konsep ini sangat penting karena keheterogenitas nya yang komplek dan disintegrasi yang tinggi, gagasan ini muncul agar tetap satu dalam kesatuan yang berlandaskan Pancasila.
“Sebagai akademisi, saya harus menyampaikan dan berbicara sesuatu yang penting untuk bangsa bukan karena ingin meraih suatu jabatan. Jika itu sudah dijalankan oleh akademisi dengan semestinya maka mahasiswa juga akan seperti itu, karena mahasiwa adalah penerus di masa yang akan datang. Banyak sekali permasalahan yang dapat dipikirkan secara bersama – sama,” ujar Yenti.
Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto sebagai salah satu pemateri menyampaikan mahasiswa harus memahami konteks panggilan tugas sejarah yang tentunya berbeda disetiap periodenya, maka dari itu mahasiswa harus belajar dari sejarah dan memahami konteks agar dapat memahami peran apa yang strategis untuk dikembangkan karena mahasiswa memiliki tantangan besar untuk dapat menuliskan sejarah.
“Kritik itu penting, karena mahasiswa adalah moral force namun lebih dr kritik diperlukan untuk bs membangun sinergi dan menciptakan kolaborasi,” ucapnya.
Disinggung mengenai perkuliahan tatap muka, Bima Arya selaku Walikota Bogor mengatakan untuk menyamakan frekuensi dan teknis mekanisme perkuliahan tatap muka, yang semestinya sudah bisa dijalankan jika covid semakin landai. “Memastikan secara bersama – sama harus siap dalam baik dlm protokol kesehatan dan kordinasi dengan instansi terkait,” tambahnya. (*)
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !