KOTA BOGOR – Pemerintah Daerah Kota Bogor menerima predikat Kota Menuju Bersih dari Menteri Lingkungan Hidup dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah 2026 yang berlangsung di Jakarta, Rabu.

Penghargaan tersebut dinilai sebagai hasil kerja kolektif dan tata kelola yang terarah di bawah kepemimpinan Wali Kota Dedie A. Rachim, Sekretaris Daerah Deny Mulyadi, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Deny Wismanto.

Apresiasi atas capaian itu datang dari berbagai kalangan, termasuk Sion Toni Samosir yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua KNPI Bidang Lingkungan Hidup Kota Bogor, Sekretaris SAPMA Pemuda Pancasila Kota Bogor, dan Ketua HPPMI Kota Bogor.

Dalam keterangannya, Toni menyebut keberhasilan tersebut sebagai “Mahakarya” yang lahir dari kolaborasi tiga pilar utama kepemimpinan. Ia menilai Wali Kota Dedie A. Rachim mampu menghadirkan kebijakan lingkungan yang visioner serta berorientasi pada keberlanjutan.

“Kita harus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Pak Dedie Rachim. Beliau memberikan ruang inovasi yang luas bagi jajarannya. Namun, visi sehebat apapun tidak akan berjalan tanpa pengawalan administrasi yang kuat dari Sekretaris Daerah, Bapak Deny Mulyadi. Pak Sekda adalah dirigen di balik layar yang memastikan seluruh instrumen birokrasi bergerak seirama, efisien, dan tepat sasaran,” ujar Toni saat ditemui dalam sebuah agenda formal di pusat kota, pada Rabu (25/2).

Baca Juga  Headline Bogor | Pimpinan DPRD Kota Bogor Apresiasi Sinergitas PWI Kota Bogor

Toni juga secara khusus menyoroti peran Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Deny Wismanto. Menurutnya, Deny merupakan figur birokrat yang menghadapi tekanan cukup besar, namun tetap menunjukkan konsistensi dan integritas melalui capaian nyata.

“Pak Deny Wismanto adalah petarung sejati. Meski sering kali diterpa berita miring hingga perundungan (bully) secara personal maupun institusional, beliau tidak pernah goyah. Beliau justru menjawab segala skeptisisme publik dengan kado perpisahan yang sangat mewah bagi Kota Bogor: Penghargaan. Ini adalah legacy atau warisan abadi yang beliau tinggalkan sebelum pensiun tahun ini. Beliau membuktikan bahwa martabat seorang birokrat dipertaruhkan lewat prestasi, bukan retorika,” tegas Toni.

Ia menambahkan, capaian tersebut sejalan dengan pernyataannya pada 5 Januari lalu, ketika dirinya memprediksi di bawah kepemimpinan “Trio Dedie-Deny-Deny”, Kota Bogor akan kembali menorehkan prestasi.

“Apa yang saya sampaikan di awal Januari bukan bualan. Saya melihat dari dekat bagaimana Pak Sekda Deny Mulyadi dan Pak Kadis Deny Wismanto bekerja siang malam menjaga marwah kota ini,” tambahnya.

Meski demikian, Toni yang berbicara atas nama KNPI Bidang Lingkungan Hidup tetap menyampaikan sejumlah catatan kritis. Ia menilai keberhasilan tersebut harus diiringi dengan pembenahan tata kelola kebersihan, khususnya dalam penataan Pedagang Kaki Lima (PKL).

Baca Juga  Rute Angkot Berubah, Tarif Juga berubah

“Apresiasi saya tulus, namun tanggung jawab saya sebagai pemuda adalah menjaga agar prestasi ini tidak ternoda. Catatan kritis kami adalah pada tata kelola kebersihan terkait penataan PKL. Penghargaan ini adalah standar moral yang sangat tinggi. Sangat tidak elok jika prestasi tingkat nasional ini kontradiktif dengan kondisi di lapangan yang masih menunjukkan adanya kesemrawutan penataan PKL di zona-zona vital. Kebersihan kota harus berbanding lurus dengan ketertiban tata ruangnya,” tegasnya.

Ia pun mendorong Pemerintah Kota Bogor agar menjadikan momentum ini sebagai titik awal penguatan pengawasan di lapangan, terutama dalam menjaga konsistensi penataan PKL agar tetap memperhatikan aspek lingkungan.

“Kami di KNPI, SAPMA PP, dan HPPMI akan terus berdiri bersama Pemkot untuk mempertahankan prestasi ini. Namun, kami juga akan menjadi pihak pertama yang mengkritik jika penataan PKL ke depan mengabaikan nilai-nilai estetika dan kebersihan yang sudah susah payah diperjuangkan oleh Trio Dedie-Deny ini. Adipura adalah awal, bukan akhir dari perjuangan menata Bogor,” tutup Toni. (*).