
“Dua ruangan bangunan kelas mulai ambuk dari tahun 2005 belum direhabilitasi sama sekali karena kelamaan sehingga kondisinya material kayu di atap banyak yang lapuk dimakan rayap. Ditambah terus diguyur hujan, sehingga semakin mengkhawatirkan Akibatnya, proses belajar mengajar murid dibuat dua sip pagi dan siang sehingga Kondisi ini membuat siswa kurang nyaman saat belajar,” jelasnya.
Jaeni Dahkan berharap kepada instansi terkait untuk bisa memperhatian, khususnya untuk sekolahan MI Darrul Muttaqin untuk dapat merehabilitasi ruang kelas agar bisa di gunakan kembali untuk aktivitas belajar – mengajar berjalan seperti biasanya.
Ditempat terpisah Kepala Desa Ciaruteun Udik Thajudin berharap Kemenag Kabupaten Bogor dapat segera merehabilitasi MI Darul Muttaqin.
“Ini kan sarana pendidikan agama, kami selaku pemerintahan Desa merasa punya beban yang besar terhadap bangunan yang mau ambruk, yang seharusnya siswa-siswi dalam belajar harus nyaman untuk pendidikan, kami atas nama pemerintahan Desa meminta kepada kemenag Kabupaten Bogor supaya bisa merehabilitasi sarana tersebut. “Ucapnya.
(Agil)