Pada kesempatan lain, Sony Heru Kusuma dari BRIN Press menilai bahwa diskusi yang mempertemukan tiga lembaga penerbit—BRIN Press, Perpusnas Press, dan penerbit pertanian—merupakan langkah penting menuju kolaborasi yang lebih luas.
“Kami berharap ada sinergi di antara ketiga penerbit ini agar dapat memperkuat ekosistem penerbitan pertanian secara nasional,” terangnya.
Sementara itu, narasumber ketiga, Epik Finilih, menyoroti pentingnya kualitas buku yang ditentukan oleh kapasitas para penulis dan editor.
“Menghasilkan buku yang baik memerlukan kolaborasi seluruh pihak. Pembinaan bagi para penulis dan penerbit tidak boleh berhenti. Proses menghasilkan karya berkualitas dimulai dari penulis yang teredukasi,” tuturnya.
Epik berharap penyelenggaraan FKP menjadi langkah berkelanjutan bagi BB Pustaka dan lembaga penerbit pertanian dalam menyiapkan penulis serta naskah berkualitas yang bisa diterbitkan oleh Perpustakaan Press, BRIN Press maupun Perpusnas Press.
FKP 2025 menjadi bukti komitmen BB Pustaka dalam memperkuat literasi pertanian nasional melalui penerbitan ilmiah dan pengelolaan pengetahuan.
Melalui forum ini, diharapkan lahir sinergi baru yang dapat mempercepat transfer ilmu, mendorong inovasi pertanian, sekaligus membangun budaya literasi modern dan produktif di sektor pertanian Indonesia. (DR)