
Bulan rajab adalah salah satu bulan haram. Arti bulan haram adalah bulan yang diharamkan bagi iblis untuk masuk ke dalam surga (kitab i’anatuth thalibin). Bulan rajab juga diharamkan bagi kaum Muslim untuk melakukan peperangan di dalamnya kecuali kaum Muslim dalam keadaan di serang atau perang defensif.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berperang pada bulan haram kecuali beliau diserbu atau mereka (kaum Muslimin) diserbu” (HR. Ahmad).
Bulan haram adalah bulan suci. Bulan rajab termasuk salah satu bulan suci diantara 12 bulan lainnya. Sebab kesucian bulan rajab, Allah lipatgandakan pahala jika ia berbuat baik dan Allah lipatgandakan dosa jika ia berbuat maksiat. Maka perbanyaklah kebaikan di bulan rajab namun tidak pula meninggalkan kebaikan di bulan selain rajab.
Selain dilipatgandakannya pahala dan dosa di bulan rajab, bulan rajab termasuk salah satu bulan yang istimewa sebab didalamnya terdapat banyak peristiwa yang terjadi di bulan rajab dan sudah pasti banyak ibrah (pelajaran) yang bisa kita ambil dan terapkan. Banyak sekali peristiwa yang terjadi di bulan rajab seperti hijrah pertama rasulullah shalallahu’alayhi wasallam dari makkah ke habasyah, perang tabuk, isra mikraj, penaklukan baitul maqdis oleh shalahudin al ayyubi, dll. Namun yang akan dibahas hanya dua poin saja mengenai hijrahnya Rasulullah shallahu’alayhi wasallam dan pertemuan pertama beliau dengan kaum Anshar.
Pertama, Rasulullah shallahu ‘alayhi wasallam hijrah dari Makkah menuju Habasyah. Hijrah ini dilakukan akibat semakin kerasnya pergolakan di Makkah yang mengkhawatir kondisi para shahabat dari sisi fisik dan psikis sehingga datangnya kaum Muslim ke habasyah adalah untuk berlindung dibalik kerajaan najasyi yang beragama nashrani dengan kitab injil yang murni dan bisa menerima Islam sebab kemurnian kitabnya. Dari peristiwa ini bisa kita ambil pelajaran didalamnya yakni mengokohkan aqidah dalam keadaan apapun. Menghindari dan melawan ujian yang dapat mengikis aqidah Islam sehingga wajib bagi kaum Muslim untuk mengemban aqidah islam yang benar, menjaga kemurnian aqidah Islam dalam diri dan menghindari segala perbuatan yang dapat mengikis aqidah Islam. Contoh hari ini seperti memiliki jiwa/ nasionalis. Memahami bahwa toleransi adalah pluralisme (semua agama sama) sedangkan dalam islam, toleransi adalah pluralitas (keberagaman fisik). Mehamami bahwa demokrasi adalah keharusan. Memahami bahwa Islam tidak pantas diterapkan di Negeri belahan dunia. Memahami bahwa Muslimah tidak wajib berhijab. Haram!
Kedua, bulan rajab adalah momen dimana Rasulullah shalallahu’alayhi wasallam bertemu dan berbincang dengan kaum Anshar untuk menerapkan Islam di Madinah. Sebab kemuliaan dan kemurnian hati kaum Anshar, menjadi washilah (perantara) dari Allah SWT untuk tegaknya Negara Islam di Madinah. Dari peristiwa ini harusnya membuat kita (kaum Muslim) sadar bahwasanya Islam pernah diterapkan kala itu dengan ujian dakwah Rasulullah shallahu’alayhi wasallam dan para Shahabat yang panjang. Hampir 11 tahun Rasulullah shalallahu’alayhi wasallam dakwah di Makkah dengan berbagai cacian, makian, juga fitnah dari para sesepuh Quraisy. Namun Allah SWT berikan Negara Islam pertama itu di Madinah dengan kurun waktu dakwah sekitar 1 tahun melalui tangan, sikap dan kata Mush’ab bin Umair ra. Negara Islam tegak di Madinah dengan singkat bukan di Makkah yang panjang.
Dengan kondisi sekarang yang hampir serupa dengan kota Makkah, apakah kekuatan Iman dan keyakinan tegaknya Islam yang kedua akan hadir kembali menginternalisasi dalam diri kita? Tentu, harus ya. Sebab Rasulullah shalallahu’alayhi wasallah bersabda “….. Kemudian akan hadir khilafah yang kedua dengan metode kenabian” (HR. Ahmad). Bukan hanya sebab hadits kemudian membuat kita memperjuangkan Islam tetapi akibat dari keimanan kepada Allah SWT yang seharusnya mendorong kita untuk yakin bahwa Allah SWT akan menolong hambanya agar terhindar dari kemasiatan melalui keyakinan bahwa Allah SWT yang berkuasa atas tegaknya Negara Islam. Sedangkan kaum Muslim hanya memiliki peran untuk memperjuangkan Islam agar tegak kembali dalam bingkai khilafah Islam dengan dakwah dan do’a yang sungguh-sungguh. In syaa Allah.
Yang terpenting, ketika kita tidak berjuang, hujjah apa yang akan kita berikan dihadapan Allah SWT ketika meninggal nanti? ~