“Ibu bupati tolong kita bantu kita, supaya ibu juga menolak omnibus law ini atau paling tidak kirimkan surat rekomendasi ke presiden. Kita tidak ingin dimiskinkan secara struktural. Di sini banyak air mata buruh,” keluh kesah orator itu.
Tak hanya itu, orator tersebut juga menjelaskan bahaya dan dampak UU Cipta Kerja terhadap nasib anak cucu meraka di masa mendatang. Menurut mereka, sejak awal pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja ini telah cacat prosedur dan banyak kesalahan penulisan.
Begitu pula dengan beberapa pasal dalam UU Cipta Kerja memihak kepentingan investor asing.
“Mari berjuang bersama! Kami menuntut Bupati Bogor menyatakan sikap tegas menolak Omnibus Law seperti yang dilakukan Gubernur Jawa Barat, mana suara Bupati Bogor? Mana suara kalian mendukung buruh?,” teriak orator lainnya.
Mereka juga menyampaikan bahwa hal itu lah yang tentu telah melukai hati para buruh karena seolah-olah investor asing tersebut diberi karpet merah di Kabupaten Bogor.
“Omnibus law ini sudah mewakili petinggi partai yang duduk ongkang-ongkang kaki nerima duit dari kita. Siapa sebenarnya mewakili suara buruh, bukan petinggi partai yang banyak duitnya itu. Mereka mengorbankan kita pada saat kita memilih mereka,” ungkapnya. (*)