JAKARTA – Menanggapi maraknya gelombang aksi Gerakan mahasiswa diberbagai daerah di Indonesia dari
Sabang sampai Merauke, yang kemudian mendapatkan tindakan tidak manusiawi dilakukan oleh Negara melalui Oknum Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Dalam hal ini oknum Polri membabi-buta menyerang mahasiswa dan elemen masyarakat yang lain dengan gas airmata, pemukulan dan bahkan diduga menembakkan peluru tajam terhadap demonstran dan menimbulkan dua orang korban jiwa di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Mahasiswa yang tewas tertembak bernama Randi (21) mahasiswa Fakultas Perikanan dan Muhammad Yusuf Kardawi (19), mahasiswa teknik sipil Universitas Halu Oleo (UHO). Selain itu banyak aktvis mahasiswa dan aktivis HAM yang ditangkap dan masih di tahan oleh polisi.
Selain itu, Kekerasan dilakukan terhadap jurnalis Kompas.com,Nibras Nada Nailufar. mengalami intimidasi saat merekam perilaku polisi yang melakukan kekerasan terhadap seorang
warga di kawasan Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Selasa malam.Dalam peristiwa ini, polisi melarang korban merekam gambar dan memaksanya menghapus rekaman video kekerasan. Nibras bahkan nyaris dipukul oleh seorang polisi. Selain itu kekerasan terjadi juga terhadap jurnalis IDN Times Vanny El Rahman. Dia dipukul dan diminta menghapus foto dan video rekamannya mengenai kekerasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran di sekitar flyover Slipi, Jakarta.

Baca Juga  Tawuran Salah Siapa ? | Headline Bogor

Sungguh hal ini adalah tindakan yang sangat biadab, tidak manusiawi dan tidak sesuai prosedur yang dilakukan oleh Polri, tidak hanya saat menghadapi massa aksi di Jakarta saja namun juga pada massa aksi diberbagai daerah di Indonesia. tidak terhitung lagi berapa korban luka yang ditimbulkan atas tindakan represif yang dilakukan oleh Polri baik dari kalangan mahasiswa, pelajar atau jurnalis. Berdasarkan fakta-fakta diatas, Maka kami Presidium Alumni BEM Seluruh Indonesia 2018 menyatakan sikap:

  1. Mengecam keras tindakan Oknum Polri dalam penggunaan peluru tajam terhadap demonstran yang menyebabkan korban jiwa. Hal ini sangatlah tidak bisa ditoleransi dan seharusnya dinegara demokrasi ini penggunaan peluru tajam sangatlah tidak perlu dan diluar akal sehat demokrasi.
  2. Mengecam keras atas tindakan represif yang dilakukan oleh Negara melalui Polri dalam menghadapi demonstran diberbagai daerah di Indonesia yang menimbulkan korban luka berat yang tidak terhitung jumlahnya. Tindakan ini adalah tindakan diluar batas dan sangat tidak manusiawi.
  3. Menolak keras penangkapan yang dilakukan pada aktivis Mahasiswa dan Aktivis Hak Asasi Manusia yang menyuarakan kemanusiaan atas tidak manusiawinya tindakan Negara terhadap rakyat.
  4. Mengecam kekerasan yang dilakukan terhadap jurnalis yang dilakukan oleh aparat Polri. Bahwa tindakan tersebut juga merupakan tindakan bodoh dalam menyikapi kebebasan berpendapat dan demokrasi Indonesia.
  5. Mendesak Pemerintah untuk bertanggung jawab atas semua peristiwa pembunuhan, penangkapan dan tindakan represifitas aparat kepolisian kepada aktivis Mahasiswa, pelajar dan elemen masyarakat lain.
  6. Mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas kasus pembunhan dua aktivis mahasiswa dalam waktu 3×24 jam sejak sikap ini dibacakan, jika tidak, maka kami minta Kapolri mundur dari jabatanya, karena telah membunuh rakyatnya sendiri.
Baca Juga  Sofian Ginting : Hari Anak Nasional Momentum Mendengarkan Suara Anak

Demikian pernyataan tersebut kami buat atas dasar kekacauan demokrasi yang terjadi di Indonesia. tidak ada yang lebih kami cintai daripada tumbuhnya demokrasi di Indonesia tanpa
adana kekerasan biadab dan tidak manusiawi.

(Presidium Alumni Aliansi BEM Seluruh Indonesia 2018)