Kebanyakan penderita gizi buruk juga selain kurangnya asupan nutrisi juga ada factor penyerta atau penyakit bawaan yang menyebabkan seorang anak terkena gizi buruk, contoh diare, gangguan jantung, gangguan mental dan lain sebagainya,

“Jadi tidak pure gizi buruk banyak faktornya orang terkena Gizi buruk, di kami (Dinkes) membentuk Center Klinik Gizi jadi ada Puskesmas- Puskesmas yang menjadi kantong resiko yang dilatih untuk menjadi Center Klinik Gizi ada 27 yang sudah terlatih dengan timnya (Dokter, Perawat, Bidan dan Petugas Gizi) mereka bertugas melakukan analisis gizi dan identifikasi sehingga intervensinya lebih intens lagi dalam menanggulangi Gizi buruk,” tambah Dede.

Dede menekankan bahwa faktor terbesar itu masalah sosial ekonomi dalam permasalahan Gizi Buruk itu. Sementara persoalan stunting dan gizi Buruk itu berbeda, kalau stunting itu lambat tumbuh. Kaitannya dengan panjang badan/Tinggi badan terhadap umur, yang menyebabkan tinggi badan anak tidak sesuai dengan masa umur anak, akibat kurangnya asupan protein yang kronik sedangkan Gizi buruk kaitanya dengan status gizi akut/ berat badan anak,gizi buruk bisa mendadak terjadi sedangkan stunting tidak bisa mendadak penyebabnya, stunting prosesnya sangat panjang.

Baca Juga  Headline Bogor | Lantik CPNS Dan Honorer Menjadi PNS, Ade Yasin : Jangan Mencuri Waktu Kerja

“Dinkes Kabupaten Bogor telah berupaya menurunkan angka Stunting dengan Program BOBES (Bogor Bebas Stunting) data pada tahun 2019 angka Stunting 19,08 % dari data rilis sebelumnya hasil survey diangka 32,09 % (Data 2018) jadi sudah signifikan penanganan Stunting di Kabupaten Bogor,kita targetkan pertaun turun sekitar 2% sampai Tahun 2024 nanti,” Papar Dede.

Baca Juga  Deklarasi Ade Wardana dan Asep Ruhiyat Syarat Sejarah Kabupaten Bogor

Dalam penanganan gizi buruk maupun stunting, Dede menilai perlu adanya intervensi dan penanganan yang komprehensif lintas sektoral, terlebih khusus untuk stunting fokus mulai saat ibu mengandung sampai bayi berumur 2 Tahun. (*)