KOTA BOGOR – Kasus penyakit Campak yang masuk kejadian luar biasa (KLB) cukup mengkhawatirkan akibat penularannya. Berdasarkan catatan di Kabupaten Bogor telah ditemui 18 kasus. Sementara di Kota Bogor, nihil.
Dalam keterangan persnya, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pemprov Jabar dr Ryan Bayusantika, kepada wartawan, merinci campak di Kabupaten Bogor tercatat mencapai 18 kasus. Sementara di Kota Bogor, belum didapati.
Ditambahkan, dari sejumlah itu belum ditemui adanya kasus kematian akibat campak tersebut selama tahun 2022.
Ditempat terpisah, kepada HeadlineBogor, Kepala Dinas Kesehatan dr. Srinowo, “Bersyukur bahwa di kota Bogor, belum ditemui adanya kasus campak tersebut,” jelasnya.
Dijelaskan Srinowo, meningkatnya kasus campak, kemungkinan diakibatkan cakupan imunisasi anak yang masih rendah.
“Wabah bisa muncul di daerah manapun, kemungkinan disebabkan karena cakupan imunisasi masih rendah dan herd immunity yang belum terbentuk. Selain itu petugas surveilans juga harus cukup aktif untuk menemukan dan melaporkannya,” jelasnya.
Agar kasus ini bisa ditekan, perlu dilakukan imunisasi campak secara lengkap terhadap anak usia 9-59 bulan. Warga pun diimbau untuk menerapkan kewaspadaan dini dan jika menemukan suspek campak (orang dengan gejala demam dan ruam makopopular) harus diperiksa ke labolatorium.
“Daerah yang tidak ada kasus pun tetap harus meningkatkan cakupan imunisasi campak rubela. Oleh sebab itu penting sekali untuk melaporkan setiap ada gejala demam ruam ke petugas kesehatan, untuk dilakukan pengambilan sampel dan diperiksa ke laboratorium guna memastikan apakah campak atau bukan dan melaporkannya ke dinkes,” pungkasnya.
Meroketnya tingkat penularan campak disinyalir merupakan dampak dari tingginya pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.
(JAW)







