Sektor manufaktur dan pariwisata mendapat goncangan besar. Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC) sekitar 50 juta orang di dunia akan kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata akibat pandemi covid-19 (BBC News, 14 Maret 2020). Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), pertumbuhan ekonomi bisa turun menjadi yang terburuk sejak 2009. OECD memperkirakan bahwa pertumbuhan dunia di tahun 2020 ini akan berkisar pada angka 2,4%, turun dari angka 2,9% pada bulan November (BBC News Indonesia, 3 Maret 2020). Ini semua tentunya berdampak pada peningkatan angka pengangguran di Indonesia.

Lesunya industri pariwisata telah terasa. Berapa usaha hotel dan restoran telah merumahkan karyawan mereka. Pengurangan jam kerja minimarket dan super market, penutupan mall, tempat hiburan, pengurangan omset pedagang kecil, dan menyusul jika dampak penurunan daya beli berdampak pada penurunan poduksi akan menyebabkan pengurangan karyawan pabrik. Gelombang besar pemudik pedagang Pasar Tanah Abang, pusat grosir dan retail baju dan tekstil terbesar di Asia Tenggara tinggal menunggu waktu dengan sepinya pembeli. Semuanya beimbas pada peningkatan jumlah pemudik. Mengapa demikian?

Kasus Pak Mardi memberikan gambaran bahwa kota besar memiliki makna sebagai tempat mencari nafkah. Tidak ada peluang mencari penghasilan, kota akan ditinggalkan.
Pekerja pabrik atau pedagang sebagian besar tinggal di rumah kontrakan. Mereka mengalirkan uang hasil bekerja di kota seperti Jabodetabek, tempat zona merah covid-19 ke desa-desa tempat tinggal mereka. Keterikatan sosial dan ekonomi mereka bukan pada kota tempat mereka bekerja, namun pada desa tempat mereka tinggal. Mudik bagi mereka bukan hanya berlibur namun coping strategy.

Baca Juga  Headline Opini | Fatarizky Muhammad : Kampus Tempat Ideal Untuk Debat Capres dan Cawapres

Arnsaether dan Baerenholdt (2001) menyebutkan coping strategy adalah strategi yang diambil untuk menghadapi suatu masalah tertentu.

Salah satu cara yang diajukan adalah melalui networking. Kembalinya para pekerja ke desa menunjukkan jaringan sosial yang mereka bangun bukan di tataran kota tempat tujuan merantau namun di desa tempat tinggal mereka. Saat tidak ada sumber penghasilan, mereka mengandalkan jaringan sosial di desa (orang tua, keluarga, dan tetangga) untuk menopang kehidupan sehari-hari mereka. Ikatan sosial yang dibangun untuk menjaga keamanan diri dan keluarga berada di tataran keluarga atau komunitas desa. Mempertahankan perantau ada di kota tempat perantauan berarti harus mampu membangun jaringan sosial yang kuat di tempat perantauan.

Baca Juga  Headline Bogor | Pemuda, Idealisme Dan Pemilu 2019

Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membangun inovasi. Cara-cara baru untuk dapat keluar dari krisis. Membangun peluang-peluang pekerjaan baru yang menyebabkan perantau dapat bertahan di perantauan, menjual barang dagangan melalui cara online, atau inovasi-inovasi lain yang dapat membuat perantau bertahan di perantauan. Ini berarti hal yang dapat dilakukan untuk menahan pemudik adalah menetapkan status kota sebagai sumber mencari nafkah dengan mendorong peluang-peluang baru dan mendorong ikatan sosial di antara perantau di kota. Membangun jejaring sosial jelas bukan pekerjaan yang dapat dilakukan dalam 14 hari dan membangun peluang baru sangat mengandalkan kreativitas perantau. Arus pemudik menjadi konsekuensi yang kemudian terjadi.