OPINI – Fenomena mudik setelah status luar biasa DKI dan Detabek merupakan masalah yang dihadapi saat ini. Mudik atau pulang kampung di Indonesia biasanya dilakukan saat liburan sekolah dan liburan hari raya terutama hari raya sebagian besar warga negara indonesia, Idul Fitri. Fenomena mudik lebih cepat dapat dipicu beberapa hal, diantaranya, anjuran pemerintah pusat dan provinsi untuk tidak adanya mudik lebaran tahun ini dapat memicu mudik lebih cepat dari seharusnya.
Kekhawatiran penutupan jalur mudik saat pandemik covid-19 semakin meningkat menyebabkan pemudik pulang kampung lebih cepat. Kebijakan work from home dan school from home juga menyebabkan anggapan bahwa sekolah dan tempat kerja libur. Ini dimanfaatkan oleh para perantau untuk pulang menengok orang tua dan sanak saudara di kampung.
Asumsi ini tidak berlaku umum. Anjuran untuk work from home atau anjuran untuk ASN untuk tidak melakukan mudik melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 36 Tahun 2020 hanya berlaku bagi sebagian kelompok pemudik. Pemudik yang memiliki pilihan untuk mudik atau tidak mudik. Ada perantau yang mudik karena memang harus pulang.
Sebut saja Pak Mardi, seorang buruh bangunan dari sebuah desa kecil di ujung timur Kabupaten Kuningan. Ia memilih pulang saat proyek bangunan tempat dia bekerja sebagai buruh kontrak menghentikan sementara pekerjaannya. Sistem bayaran harian dengan upah Rp. 150.000,- dengan uang makan Rp. 50.000 per hari berhenti saat pekerjaan dihentikan. Pemberi pekerjaan tidak memberikan penjelasan kapan pekerjaan akan dimulai kembali. Pak Mardi memutuskan pulang karena ia berpikir lebih baik tinggal di kampung dan dapat makan seadanya bersama keluarga daripada bertahan tinggal di kota tanpa pekerjaan.
Pak Mardi tidak sendirian. Sayangnya DKI Jakarta tidak memiliki data jumlah pekerja sektor informal dalam DKI Jakarta dalam angka 2020. Data Sakernas 2018 menunjukkan 58,22 % migran terserap dalam sektor informal. Secara kasat mata di kawasan Jabodetabek banyak pedagang makanan dan kelontong di perkampungan, perumahan dan pasar, pekerja bangunan, tukang tambal ban, pedagang kayu dan besi, pemulung serta pembantu rumah tangga yang merupakan migran dari seluruh wilayah di Indonesia.
Pandemic covid-19 menyebabkan Pak Mardi memiliki kawan-kawan yang lain yang berasal dari sektor formal. Secara keseluruhan ekonomi Indonesia dan dunia terdampak dahsyat dengan pandemic covid-19 ini. IHSG sempat menguat hari ini di angka 4.538,93, angka penguatan yang masih terbilang rendah dalam sejarah nilai IHSG. Nilai dolar menyentuh angka Rp 16.310.