KOTA BOGOR – Proyek penataan Suryakencana, yang menggunakan dana talangan dari pusat, yang sudah dipastikan ‘molor’ penyelesaiannya, kini semakin terkesan ‘amburadul’. Pasalnya, pembangunan jalan Ranggading yang dimulai dari ujung jalan Suryakencana hingga ke kampung cingcau, rancangan dan eksistingnya dikeluhkan para pemilik toko dan warga sekitarnya.
Menurut Asep, warga sekitar, jalan Ranggading yang sudah sejak zaman Belanda dahulu, merupakan jalan akses dan terbuka buat umum, kini eksistingnya dipasangi tangga setinggi +/- 3 meter.
“Dari zaman dulu, jalan Ranggagading itu menjadi jalan umum bagi warga kampung Cincau yang hendak menuju ke jalan Suryakencana. Gak tahu nya sekarang dibuat tangga yang tinggi sehingga mobil dan motor tidak bisa melalui jalan itu lagi”, ujarnya.
Lain lagi dengan Januar, salah seorang pemilik toko yang berlokasi di jajaran Sekolah Tinggi Kesatuan, ia mengeluhkan keberadaan tangga tersebut, karena kini kendaraan pengirim barang ke tokonya, harus berputar dahulu ke Sukasari kemudian ke Bondongan lalu masuk ke arah pasar cunpok.
“Mereka mengeluh bahkan cenderung sudah jarang mau berkirim barang ke toko saya. Apalagi di pasar cunpok yang sempit sering macet” katanya.
Disisi lain, Priyatna (52) seorang akademisi merasa aneh, dengan dibuatnya jalan Ranggagading seperti sekarang ini. Yang berakibat dikeluhkan masyarakat usaha, warga dan pengemudi yang sering melalui jalan tersebut.
“Hal itu terkesan bahwa penataannya, akan terkesan diskriminasi, karena jalan Pedati dan Lawangseketeng, tidak dibuat seperti itu” lanjut Priyatna.
Menanggapi hal tersebut, Lurah Gudang, Bogor Tengah, justeru terkesan tidak mengetahui selak beluk perencanaan nya. “Saya kan baru jadi lurah disini. Dan saya tidak pernah menerima design gambar penataan di jalan Ranggagading itu,” ujarnya.
Menanggapi hal itu semua, Dandan, Kabid PUPR, penanggung jawab penataan Suryakencana, termasuk jalan Pedati, Lawangseketeng dan Ranggagading, sempat mengatakan, dalam pertemuan dengan pemilik usaha dan warga, bahwa semua sudah terencana dan disetujui masyarakat sekitar saat sosialisasi.
Namun, pernyataan tersebut didebat oleh para pemilik toko dan warga sekitar. Dikatakan, Hardi salah seorang perwakilan Paguyuban warga SEPAKAT, bahwa pihaknya mewakili masyarakat, tidak pernah menyatakan persetujuannya untuk penataan Suryakencana, termasuk jalan Ranggagading.
“Kami dari paguyuban yang mewakili warga masyarakat, tidak pernah menyetujui rencana tersebut,” jelasnya dengan lantang.
Para pemilik usaha di sekitar Jalan Ranggading dan warga masyarakat sepanjang kampung Cingcau, berharap tangga yang tinggi tersebut, segera dibongkar.
“Bongkar saja tangga tersebut, karena tidak jelas manfaatnya dan lebih banyak merugikan kami,” harap beberapa warga yang ditemui.
(Jay)

