OPINI – Dagelan politik, orang mungkin sering mendengar istilah ini. Istilah yang menggambarkan betapa konyolnya perilaku para aktor politik dibalik lakon kekuasaan. Politik yang seharusnya bermartabat, anggun dan elegan. Dimainkan menjadi kotor, penuh rekayasa, intrik dan konspirasi.
Mungkin berlebihan, tapi itu kenyataan.
Saya membayangkan, bagaimana jika presiden, menteri dan anggota-anggota dewan dihuni oleh sekumpulan pelawak. Biar benar-benar menjadi negara dagelan. Yang penting rakyat senang, bahagia, dan selalu tertawa.
Mungkin jika pelawak yang memegang kekuasaan, rakyat tidak terlalu frustasi. Suasana saat sidang pun tidak akan kisruh dan penuh dengan interupsi. Karena yang ada dalam prinsip pelawak adalah “dilarang saling menyakiti dan menjatuhkan.” Yang ada adalah “Saling menghibur dan saling tertawa.”
Wajah pelawak lebih menarik dilihat ketimbang melihat raut wajah politikus atau pejabat yang serius,arogan dan terkesan angker, dengan bahasa yang penuh diplomasi tapi hampa makna (meski tidak semua seperti itu). Bandingkan dengan wajah pelawak yang baru melihatnya saja kita sudah bisa tersenyum dan tertawa. Wajah yang menghibur dengan raut polos tanpa dibuat-buat
Mungkin para politikus atau pejabat perlu melakukan studi banding kepada pelawak. Studi bandingnya tentang psikologi massa. Bagaimana membuat massa menjadi nyaman, aman dan senang. Perlu banyak belajar tentang bagaimana menghibur dan membawa orang melupakan masalahnya, Masalah yang biasanya justru diciptakan sendiri oleh para politikus atau pejabat
Apakah sudah menjadi kesepakatan bersama atau entah pengaruh apa? Jika sudah menjabat di posisi tertentu, seorang politikus atau pejabat seolah kehilangan sisi kerakyatannya. Berubah mengikuti trend system yang sudah mengakar kuat berpuluh-puluh tahun dan prinsip mendasar pada dirinya menjadi hilang. Ke Aku an dan merasa tinggi serta populer menjadi pemutus benang merah antara dirinya dan rakyat yang memilihnya.
Dalam beberapa kesempatan, ketika menyampaikan materi tentang kekuasaan Negara. Saya selalu mengajak berpikir dengan cara yang sesuai undang-undang. Di masyarakat , berlaku secara umum ketika suatu daerah atau acara yang akan dihadiri oleh politikus atau pejabat Negara maka daerah tersebut sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya demi menyenangkan politikus atau pejabat. Acara dirancang sedemikian rupa, semegah mungkin dan semahal mungkin. Spanduk selamat datang, pamplet dan umbul umbul akan sangat meriah pada hari pelaksanaan.
Lalu, saya katakan. “kenapa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan undang-undang? Bukankah dijelaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 1 ayat 2 bahwa “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar? Jadi yang seharusnya di istimewakan adalah rakyat. Yang harus disambut adalah rakyat, yang harus mendapatkan tempat tertinggi adalah rakyat. Para politikus atau pejabat seharusnya repot mengurusi segala sesuatunya demi mendatangi rakyat yang adalah pemimpin sejatinya. Malah saya katakan bahwa “Pejabat itu banyak kurang ajarnya, rakyat yang sejatinya adalah raja tapi berjalan kaki dan berpanas-panasan sementara para pejabat menaiki mobil mewah yang harganya fantastis. Sangat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, harusnya rakyatlah yang berada di dalam mobil mewah itu, dan, para pejabat harusnya turun berjalan melayani rakyat yang adalah Raja yang harus dilayani.
Logika kekuasaan memang sudah terbalik, merindukan sosok teladan seperti Soekarno dan Hatta. Duet hebat pemimpin bangsa yang mengabdikan total kehidupannya untuk rakyat. Bahkan Bung Hatta di akhir hayatnya tidak bisa membeli sepatu Bally yang menjadi keinginannya. Tidak bisa dibayangkan seorang wakil Presiden tidak pernah bisa membeli sepasang sepatu. Mimpi itu masih berupa guntingan iklan sepatu Bally yang tetap disimpannya dengan rapi hingga beliau meninggal dunia pada 14 Maret 1980. Bandingkan dengan kehidupan serba mewah para pejabat saat ini, tapi minim kontribusi nyata bagi rakyat.
Negara membutuhkan sosok negarawan sejati yang berpikiran cerdas dan memiliki tingkat spiritual tinggi , yang kecintaan terhadap bangsa dan Negara di atas segalanya. Menghadapi permasalahan bangsa di era millenial tidak bisa dengan candaan dan pemikiran pemikiran sempit penuh kepentingan. Karena negara bukan panggung komedi, bukan panggung hiburan apalagi panggung sandiwara.
Bambang Aribowo, S.Pd.MM
Guru SMAN 1 RUMPIN Kabupaten Bogor (Pemerhati masalah sosial dan politik).
2 Komentar
5
4
Komentar ditutup.