KOTA BOGOR – Mimpi Kota Bogor menjadi Kota Gastronomi dunia mulai diwujudkan melalui kolaborasi antara petani, komunitas gastronomi, dan industri kuliner.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam dialog udara Dinamika RRI Bogor bertajuk “Mewujudkan Bogor Kota Gastronomi: Kolaborasi Petani dan Industri”, Rabu (15/7).
Dialog itu menghadirkan Ketua Gastronomi Kota Bogor Haidar, Ketua Himpunan Petani Peternak Milenial Indonesia (HPPMI) Kota Bogor Sion Samosir serta praktisi kuliner dan pengusaha muda Vicky Mulyadi Putra.
Ketua HPPMI Kota Bogor Sion Samosir mengatakan, generasi muda kini mulai melihat pertanian dan peternakan sebagai sektor yang menjanjikan dan penuh inovasi.
“Kami di HPPMI ingin membuktikan bahwa anak muda bertani tidak lagi sekadar bermodal cangkul. Kami masuk dengan sentuhan teknologi, smart farming, hidroponik, hingga manajemen ternak berbasis digital. Kebutuhan pangan Jabodetabek ini luar biasa besar. Anak muda Bogor harus mengambil peran sebagai produsen, bukan sekadar penonton di tanah sendiri,” ujar Sion.
Menurutnya, tantangan utama petani muda adalah menjaga kontinuitas pasokan, standar mutu, dan kestabilan harga. Karena itu, HPPMI berperan sebagai konsolidator melalui model Direct-to-Business (D2B) untuk menghubungkan petani dengan industri sekaligus memperpendek rantai distribusi.
Ketua Gastronomi Kota Bogor Haidar menegaskan, konsep Kota Gastronomi memiliki makna lebih luas dibanding sekadar Kota Kuliner. Gastronomi mencakup sejarah, budaya, ekologi, proses produksi pangan, hingga penyajiannya secara berkelanjutan.
“Bogor memiliki kekayaan agroklimat dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Potensi inilah yang harus kita angkat menjadi identitas gastronomi kita. Kolaborasi hulu-hilir ini adalah kunci agar nilai tambah ekonomi dari ekosistem pangan ini benar-benar berputar dan dinikmati oleh warga Bogor sendiri, mulai dari petaninya hingga ke juru masaknya,” jelas Haidar.
Sementara itu, Vicky Mulyadi Putra menyebut industri kuliner membutuhkan bahan baku lokal yang segar, aman, dan memiliki kualitas konsisten.
“Di industri, kami butuh kepastian. Bahan baku yang masuk ke dapur kami harus memiliki standar kebersihan dan kesegaran yang konsisten setiap harinya. Jika para petani milenial Bogor mampu menjaga konsistensi ini, saya yakin produk lokal Bogor seperti talas, sayuran organik, hingga daging lokal akan naik kelas dan menjadi primadona di restoran-restoran bintang lima,” papar Vicky.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi fondasi bagi Bogor untuk mengembangkan ekosistem pangan yang mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan.
“Pangan adalah urusan hidup matinya suatu bangsa, dan masa depan itu kini ada di tangan generasi muda. Melalui kolaborasi ini, kita buktikan bahwa dari tanah Bogor yang subur, lewat tangan-tangan muda yang kreatif, kita mampu menghadirkan kedaulatan pangan yang menyejahterakan semua pihak,” pungkas Sion. (DR)