Secara jelas tertulis, bahwa perbaikan sumber daya manusia – dalam hal ini pelajar – harus dikerjakan bersama dengan planing yang matang dari semua pihak bersangkutan. Mendudukkan satu pihak saja, tidak akan menjamin kesimpulan yang dihasilkan matang dan tepat sasaran. Tawuran adalah masalah bersama.
Koentjoro Soeprapto, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, mengatakan “Ada tiga faktor yang menjadi penyebab tawuran, faktor karena memang diadu, faktor kepentingan, dan dendam lama.” Beliau juga menyampaikan pengakuan dari orang lain termasuk faktor yang menyebabkan tawuran (source: kompas.com).
Jika ditelaah secara luas, penyebab tawuran ini sebenarnya bisa dikerucutkan dalam satu faktor, yaitu kurangnya ruang dan waktu berkumpul dan berinteraksi baik dalam sekolah juga antar sekolah. Terlihat sepele memang, tapi berefek sangat besar bila dilaksanakan secara konsisten.
Indonesia itu budayanya adalah berkumpul. Padahal, setidaknya sejak 2015 Pemkot sangat ligat dalam merenovasi dan membangun ruang-ruang terbuka di Kota Bogor. Taman Kencana, Sempur, Taman Ekspresi, Taman Corat-Coret setidaknya menjadi bukti akan hal tersebut. Taman – taman dibangun, jalan ramah pejalan kaki diperlebar, ruang-ruang nongkrong diperbanyak, sampai-sampai Bima Arya lebih sering dijuluki Kepala Pertamanan daripada Walikota Bogor. Tapi, hal itu belum bisa berkorelasi positif terhadap statistik tawuran di Kota Bogor.
Ruang-ruang terbuka belum dimanfaatkan dengan baik. Seharusnya bisa diciptakan sebuah kerja sama bilateral, baik antar Pemkot dengan Sekolah, ataupun Sekolah dengan Sekolah. Perbanyak kegiatan-kegiatan yang menghasilkan sebuah interaksi. Entah melalui turnamen olahraga antar sekolah, tukar pelajar, program kegiatan ekskul bersama, dan hal-hal yang menghasilkan interaksi lainnya.
Jika dikemas dengan baik, menarik, inovatif, dan berkesinambungan, kegiatan tersebut bisa menjadi satu upaya yang tepat untuk mengurangi tawuran di Kota Bogor. Dalam konteks lebih lanjut, hal tersebut juga berdampak positif pada pelajar baik secara akademis maupun ekstrakulikuler.
Pemerintah Kota Bogor, Sekolah, dan seluruh elemen terkait sepatutnya melihat titik persoalan dan mencari solusi dengan menggali hal-hal yang paling fundamental terlebih dahulu. Menyelesaikan masalah harus mencabut sampai ke akarnya, bukan sebatas memotong ranting-ranting saja.
Brian Samosir
(Ketua Cabang GMKI Bogor)