OPINI – Bogor kembali meringis. Wilayah yang digaung-gaungkan sebagai kota ramah anak harus menelan pil pahit sebagai akibat ketidaksesuaian antara teori dan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Tawuran, ternyata masih menjadi “hobby” sebagian besar pelajar di Kota Bogor. Seperti baru-baru ini, dalam sehari saja terjadi dua tawuran beruntun. Pertama, tawuran yang terjadi di Jalan Raya Pandu Raya, Kelurahan Tegalega, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor hari Minggu (09/02/2020) pukul 04.00 dini. Tawuran ini sendiri menewaskan seorang pelajar setelah menerima bacokan di leher, kepala dan tangan.

Baca Juga  Menyoal Pelibatan Milenial dalam West Java Food and Agriculture Summit (WJFAS)

Kedua, tawuran yang terjadi di Jalan Soleh Iskandar sekitar pukul 03.00 WIB. Tawuran ini menyebabkan seorang remaja terluka pada bagian tangan akibat sabetan celurit.

Jika merunut kebelakang lagi, dengan jumlah tawuran dalam rentan waktu yang relatif singkat, Bima Arya Wali Kota Bogor bisa dikatakan hanya melakukan “lip service” ketika berbicara tentang Kota Bogor sebagai kota ramah anak.

Baca Juga  Perkuat Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathoniyah Di Bulan Suci Ramadhan dengan Melihat: “Relevansi Pancasila dengan Esensi Ajaran Islam”

Lihat saja, tawuran berujung terenggutnya nyawa seorang pelajar yang terjadi pada Sabtu (25/01/2020) sekitar pukul 01.00 WIB, di Jalan RE Martadinata, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.