KABUPATEN BOGOR — Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Bogor, Senin (31/8).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah aspirasi terkait dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.

Mereka mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera menuntaskan proses penyidikan dan memberikan kepastian hukum terhadap perkara yang tengah ditangani.

Baca Juga  Headline Bogor | Dinilai Tim Verifikasi Provinsi Jawa Barat, Desa Bangunjaya Siap Berikan Yang Terbaik

Koordinator aksi HMI Cabang Bogor, Fadhlan Nurfaqih, mengatakan pihaknya datang untuk menyampaikan aspirasi berdasarkan kajian yang telah dilakukan. Namun, menurut dia, massa aksi justru mendapat perlakuan yang tidak semestinya saat hendak menyampaikan tuntutan.

“Hari ini kami menyampaikan aspirasi di depan Kantor Bupati, tapi kami dihalangi,” kata Fadhlan.

Fadhlan juga mengungkapkan adanya dugaan tindakan verbal yang dinilai merendahkan terhadap salah satu peserta aksi yang berasal dari Sulawesi.

Baca Juga  Sopir Pribadi Nekat Habisi Nenek Di Cisarua

“Rekan kami dari Sulawesi dikatai monyet, rekan kami dari Sulawesi dikatai binatang. Seakan-akan orang Sulawesi tidak beradab, tidak memiliki etika,” ujarnya.

Menurut Fadhlan, materi yang disampaikan dalam aksi tersebut bukan sekadar tudingan, melainkan didasarkan pada kajian akademis dan substansi persoalan yang ingin mereka sampaikan kepada pemerintah maupun aparat penegak hukum.

“Padahal yang kami sampaikan substantif dan memiliki kajian akademis, tapi kami dikatai monyet,” tuturnya.

Selain dugaan penghinaan secara verbal, Fadhlan mengaku massa aksi juga mendapat perlakuan fisik ketika berupaya menyampaikan aspirasi. Ia menyebut dirinya sempat didorong dan mendapat tindakan yang menurutnya berpotensi membahayakan.

Baca Juga  Headline Bogor | Bupati Ade Yasin Dianugerahi Sebagai Kepala Daerah Peduli Radio

“Kami didorong, kami mau dipukul. Kepala saya tadi hampir diinjak. Di atas kepala saya ada PDL mereka. Saya dipelototi, saya dipukul, saya didorong dan akan di-smack down,” ungkapnya.

Fadhlan mempertanyakan tindakan tersebut di tengah upaya mahasiswa menyampaikan kritik dan aspirasi di ruang publik.

“Hari ini ini demokrasi di Kabupaten Bogor. Ini suara rakyat didengarkan oleh para penguasa, tidak seolah tidak didengarkan sama sekali, tapi langsung begitu saja,” katanya. (SND)