Kebijakan terbaru dalam prodak berpikir elite trias politika adalah pilkada serentak romannya agar pesta ini dirasakan secara serentak dan benar-benar pesta yang megah bagaimana tidak, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan pememilihan pemimpin daerah di sana mungkin trilyunan rupiah sebagai ongkos pelaksanannya. Belum lagi biaya pribadi yang dikeluarkan para calon dan pendukungnya untuk menjadi pemipin daereah di negeri demokrasi ini.
Namun dengan uang yang bergelimang belum tentu menang dan pemenang belum tentu penuh dalam kemenangan. Sebagaimana yang pada Koran Radar Bogor edisi rabu 21 juli 2018 yang bertuliskan “TAK SEPENUHNYA BERKUASA” dan lanjutannya adalah ada kalimat “tak boleh berpuas diri keunggulan mereka di pilkada masih menyisakan celah yang bakal membuat program kerja keduanya terhambat . waspadai dominasi suara oposisi”
Pemenang belum tentu menang apalagi bicara pelayanan dan pengabdian pada rakyatnya sebagai mana konsepsi demokrasi yang kita pelajari “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat” akan sulit karena jalan sudah pasti banyak rintangan. Hemat saya sebagai masyarakat Bogor dengan persoalan yang ada dimana konsep negeri demokrasi yang kita semua pelajari dari mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi kita mengenal yang namanya bentuk-bentuk kesepakatan bersama yang mana ada tiga hal yaitu musyawarah mencapai mufakat, voting atau pemungutan suara dan aklamasi.
Jika kita berkaca sebagaimana Negara adalah organisasi juga yang mana organisasi secara definitive terminologi adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan bersama dan mewujudkannya. Pertanyaannya adalah apakah dalam membuat tujuan hanya di lakukan seseorang jelas buka itu adalah kepemimpinan otoriter dan apakah oleh kelompok minoritas jelas kita tegaskan kembali bukan jangan sampai mewujud adanya kelompok tirani minoritas, ketiga pertanyaanya adalah apakah tujuan itu lahir daripada suara mayotitas ini juga tidak karena yang terjadi adalah dominasi mayoritas terhadap kebijakan.
Melanjut yang diatas “vox populi, vox dei” menurut hemat saya adalah rasionalitas yang direspon atas stimulus hingga mana rakyat melek atas realitas apa yang ditempuhnya. Dimana jika kembali pada pembicaraan siapa yang menentukan tujuan adalah bilamana keputusan akan lahir pada hal yang terbaik dari yang baik dengan konsepsi itulah akan ada prikemanusiaan dan perikeberadaaban yang menuju keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Setelah itu jika sudah mencapai kesepakatan itulah kesepakatan bersama yang diambil melalui proses perasionalitasan seseorang pada kelompok atau sebaliknya.