Dari situlah, amygdala atau pusat rasa cemas sekaligus memori kita menjadi terlalu aktif bekerja. Ujung-ujungnya, kata Andri, ia tak sanggup lagi mengatasi kerja berat itu.

“Amygdala yang bekerja berlebihan ini juga mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan,” imbuhnya.

Akibatnya, kita bisa terjebak dalam kondisi apa yang Andri sebut fight or flight. Manusia jadi tak bisa berhenti was-was. Ketidakseimbangan inilah yang membuat gejala psikosomatik muncul sebagai reaksi untuk siap siaga menghadapi ancaman.

Baca Juga  Headline Bogor | Menko Marves Minta Pemkab Bogor Tingkatkan Target Vaksinasi

Untuk mengenali gejala psikosomatik, Andri menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Menurutnya, kita mesti bisa membedakan apakah gejala yang dialami hanya berlangsung sesaat atau terus-menerus dan apakah keluhan-keluhan yang dirasakan itu berpindah di bagian tubuh lain atau sebaliknya.

“Pemeriksaan objektif bisa dilakukan pada kondisi seperti sekarang. Ingat kalau ada demam tinggi, batuk, pilek dan sesak napas, lebih baik segera ke rumah sakit,” saran Andri.

Baca Juga  Headline Bogor | Pemkab Bogor Buka Rekrutmen Relawan Penanggulangan Covid-19

Demi mengurangi gejala psikosomatik akibat kerja amygdala yang terlalu aktif, Andri mengimbau masyarakat untuk mengurangi dan membatasi konsumsi informasi terkait COVID-19.

“Lakukan hal lain selain browsing, lakukan hobi yang menyenangkan dan sebarkan optimisme kita bisa lewati semua ini,” imbaunya.

Sumber : relawan.id