Agustina M. Purnomo
Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor,; Dosen Fisip Universitas Djuanda

Riuh rendah perdebatan larangan mudik oleh pemerintah terus berlangsung. Meskipun berita mudik tak berhasil mengalahkan berita peluncuran album pertama NCT dream di trending pertama youtube per 11-13 Mei 2021 namun arus perdebatan masih berlangsung. Aliran pemudik bermotor masih terjadi hingga H+1 lebaran. Larangan berziarah masih hangat mendapat penentangan.
Kegelisahan masyarakat untuk tidak berlebaran bersama keluarga seolah melupakan kegelisahan mengenai sekolah tatap muka.

Per April 2021, beberapa daerah telah menyelenggarakan ujicoba pembelajaran tatap muka. Pemerintah DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat telah menyelenggarakan uji coba pembelajaran tatap muka. Pemerintah nasional dan daerah bersiap untuk menghadapi pembelajaran tatap muka yang direncanakan untuk diselenggarakan sejak September 2020 menurut SKB 4 Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 Dan Tahun Akademik 2020/2021 Di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Pembelajaran tatap muka masih kontroversial. Beragam pihak menentang pembelajaran tatap muka. “Walaupun satu orang, nyawa sangat berharga, mohon dipikirkan ulang untuk membatalkan uji coba (sekolah tatap muka)nya,” dikutip dari pernyataan Prof. Zubairi dimuat di Suara.com, Rabu (7/4/2021).Pernyataan Ketua Satgas IDI, ini dikeluarkan dalam menanggapi uji coba pembelajaran tatap muka di Jakarta.

Saran ini berhadapan dengan kegelisahan dan kebutuhan untuk memulai pembelajaran tatap muka. Ketua IGRA Kota Bogor menyampaikan “Pembelajaran tatap muka mendesak untuk siswa PAUD/RA yang memerlukan pembelajaran secara langsung. Kita telah satu tahun tidak menyelenggarakan pendidikan tatap muka, jika tidak dimulai, maka aka nada satu generasi anak yang tidak mendapatkan PAUD”. Pernyataan yang dikemukakan saat FGD Antisipasi Pembelajaran Tatap Muka yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Kota Bogor 28 April 2021 ini menyentak kesadaran kita.

1,5 tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Ada satu generasi terancam tidak mendapatkan PAUD. Pun ada kelompok pembelajaran yang tidak lagi mungkin diselenggarakan secara daring. Ketua MKKS SMK Kota Bogor mengemukakan, “Bagaimana dengan siswa SMK terutama di bidang yang memerlukan kelas praktik?” Kelas praktik yang memerlukan praktik langsung seperti otomotif dan pengelasan memerlukan praktik langsung. Pembelajaran tatap muka bagi sebagian siswa mendesak untuk dilakukan,”

Mudik Potensial mendorong Peningkatan Kasus Covid-19. Fakta ini tidak tertolak berdasarkan fakta sifat penyebaran Covid-19. Covid-19 menyebar melalui droplets yang dapat berpindah dari seorang carrier kepada orang lain yang terjadi melalui kontak fisik atau kontak dengan benda-benda terpapar virus dalam jangka waktu tertentu. Mudik pada dasarnya adalah silaturahmi. Ajang pertemuan antara keluarga dan kerabat. Silaturahmi tanpa kontak langsung sulit dilakukan. Pada kenyataannya, keluarga, merupakan tempat penyebaran Covid-19 karena di keluarga orang merasa aman dan mulai melepaskan prokes 5M.

Baca Juga  Komjen. Pol. Arief Sulistyanto Lulus Doktor Hukum UPH Raih Predikat Summa Cumlaude

Hal ini bukan hanya opini, kasus cluster penyebaran covid di tingkat keluarga telah banyak terjadi. Masih segar ingatan kita kasus keluarga artis yang terkena Covid-19 secara berjamaah sekeluarga. Kasus keluarga artis Ussy Sulistiawaty, 8 anggota keluarga terkena covid. Kasus keluarga artis Anang Hermansyah, 4 orang anggota keluarga terkena covid dan terakhir kasus keluarga artis Joana Alexandra, 10 anggota keluarga terkena covid. Kasus artis Joana Alexandra menyebabkan meninggalnya sang suami, Raditya Oloan. Mudik merupakan pintu penyebaran cluster Covid-19 di tingkat keluarga yang lebih luas, orang tua dan kerabat di kampung.

Baca Juga  Perbatasan Kota Bogor Terkena Dampak Ompreng Sekolah | Headline Bogor

Mudik Mengancam Penyelenggaraan Pembelajaran Sekolah Tatap Muka. Syarat penyelenggaraan pembelajaran tatap muka adalah satuan pendidikan berada di kawasan zona hijau atau kuning. Lampiran Surat Keputusan Bersama Empat Menteri menyatakan “Satuan pendidikan yang berada di daerah ZONA ORANYE dan MERAH berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Nasional (https://covid19.go.id/peta-risiko), dilarang melakukan proses pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan”. Per 11 Mei 2021, kawasan resiko sedang (berwarna orange) tersebar hampir merata di Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Kawasan-kawasan ini tidak dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka.

Kawasan dengan zona oranye berlaku untuk kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 6 hingga 10 rumah dalam satu RT selama seminggu terakhir. Kawasan ini dapat berubah menjadi zona kuning jika kasus konfirmasi positif Covid-19 menurun sebanyak 1 sampai 5 rumah dalam satu RT selama seminggu terakhir dan zona hijau jika tidak ditemukan kasus konfirmasi positif Covid-19. Inilah tantangan yang harus dihadapi pemerintah untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, menurunkan kasus konfirmasi positif Covid-19.

Tentu masih ada pihak yang berkilah mudik atau berziarah bukan satu-satunya penyebab penyebaran Covid-19. Tentu pula masih ada pihak yang berkilah dengan alasan wisata, pasar, mall dan restoran yang masih buka. Bahkan ada yang tidak mempercayai keberadaan Covid-19. Ranah kepercayaan di tingkat pribadi ini akan berhadapan dengan ranah kenyataan data dan fakta kasus konfirmasi positif Covid-19 pasca lebaran. Tentunya kita masih menunggu hasilnya nanti. Suatu hal yang pasti adalah pertaruhan mudik kali ini adalah pertaruhan antara tindakan saat ini dengan keberlanjutan rencana pembelajaran tatap muka. Akankah kita mempertaruhkan masa depan pembelajaran anak-anak demi kepercayaan di tingkat pribadi?.