JAKARTA – Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin menuturkan, pencapaian pembangunan nasional yang dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 sebelum terjadinya wabah COVID-19. Ma’ruf menilai capaian tersebut cukup membanggakan di berbagai bidang.
Dikutip dari kanal berita online, menurut KH. Ma’ruf Amin di bidang kesejahteraan masyarakat, lanjut Wapres, telah dilakukan juga berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan umum. Ma’ruf mengklaim tingkat kemiskinan menurun.
“Tingkat kemiskinan yang 11,22 persen pada tahun 2015 turun menjadi 9,78 persen pada bulan Maret 2020, dan meningkatnya cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN dari 61,5 persen tahun 2015 telah mencapai 81,86 persen dari seluruh populasi pada bulan Juni 2020,” kata Wapres.
Pemaparan Wakil Presiden tersebut memperoleh tanggapan dari, Mantan Kasubid Statistik Ketenagakerjaan Kemanakertrans RI yang juga aktivis kemanusian, Natalius Pigai.
Menurut Pigai, jumlah penduduk miskin pada Maret 2014 sebanyak 28, 28 juta (11,28%) namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mampu menurunkan angka kemiskinan sehingga pada akhir jabatan September 2014 sebanyak 27,73 juta orang (10,96 persen).
“Karena itu Wakil Presiden Prof Maruf Amin mesti jujur. Cara hitung yang benar adalah bukan bukan dihitung dari 11,22% tetapi dari 10,96 % kurangi penduduk miskin Maret 2020 sebesar 9,78% sehingga Jaman Jokowi orang miskin turun hanya 1,18%. Padahal Jokowi habiskan uang rakyat hampir 12 ribu trilyun APBN selama 6 tahun,” tulis Pigai melalui layanan pesan.
Tambah Pigai, penurunan jumlah orang miskin yang hanya turun 1,18 % orang itu terlalu kecil bahkan terkecil diantara 7 Presiden.
“Jokowi tidak punya hati dan kejam pada pada orang miskin. 6 Presiden sebelumnya mampu menurunkan angka kemiskinan lebih dari 2 %. bahkan Gusdur 5% dari 23% ke 18% hanya dalam waktu singkat, SBY 6%,” pungkasnya. (*)