KABUPATEN BOGOR – Penyebab meningkatnya Silpa dari tahun ke tahun diakibatkan karena perencanaan yang buruk ditambah penyerapan anggaran yang rendah. Selain itu, program yang direncanakan kurang inovatif karena motivasi ASN untuk melayani masyarakat masih rendah. Demikian disampaikan mantan aktivis Ruhiyat Sujana yang sekarang menjadi anggota DRPD Kabupaten Bogor menanggapi meningkatnya dana Silpa di APBD tahun 2019

Ruhiyat menambahkan, Perencanaan buruk menyebabkan pekerjaan fisik yang seharusnya mulai dilaksanakan sejak Februari, namun molor sampai Juni atau Juli. Alasannya belum ada petunjuk teknis. Padahal, di lain sisi, dana belanja pegawai terserap dengan baik, bahkan sudah berjalan di semeseter pertama mencapai 50 persen.

Baca Juga  Headline Bogor | Ade Yasin : Santri Harus Berkontribusi Untuk Pembangunan dan Kemajuan Bangsa Indonesia

“Kalau orang terpanggil untuk melayani, pasti belajar dari tahun sebelumnya, sehingga persiapan juknis, bukan menjadi alasan untuk terlambat merealisasikan program sesuai waktu yang ada. Bagaimana kalau baru mulai kerja Juni-Juli, baru jumlah item banyak? Apakah efektif? Tentunya tidak,” katanya.

Ia menilai selain perencanaan yang buruk, membengkaknya dana silpa juga buntut dari motivasi ASN dalam melayani yang rendah.

Baca Juga  Headline Bogor | Pemkab Bogor Fokuskan Infrastruktur Akses Jalan dan Validasi Data Di Perpanjangan Massa Tanggap Darurat

“Kalau orang terpanggil melayani dengan hati pasti akan berjalan baik dan memuaskan. Tapi, bila tidak maka pastinnya dianggap beban sehingga pekerjaan tidak tuntas dan berakibat pada anggaran tidak terserap,” tambahnya.