Bogor (Headlinebogor.com) – Dalam iring-iringan serombongan kecil manusia ribuan tahun yang lalu yang terdiri dari beberapa orang murid dan seorang guru terjadi perdebatan. Di antara para anggota rombongan dengan isu; siapakah yang lebih besar atau utama di antara mereka?

Seorang murid menyatakan ia paling utama, karena paling rajin melayani kebutuhan sehari hari Sang Guru. Seorang lain menyatakan ia yang paling utama, karena merasa paling berani membela Sang Guru. Sedangkan yang lain menyatakan ia yang paling utama karena paling pandai menerima pengajaran sang Guru.

Apa kata Sang Guru (Nabi Isa As); yang utama di antara kalian adalah ia yang bersedia melayani diantara kalian atau sesama manusia. Para murid terdiam dan perdebatan terhenti.

Baca Juga  Bima - Dedie Gerilya Di Bogor Barat Dengarkan Warga Curhat | Headline Bogor

Menjadi pelayan sesama manusia (servant) menempatkan sang pelayan pada posisi rendah di hadapan manusia. Ini tentu memerlukan sikap rendah hati, tahan uji, rajin, dan tidak boleh mengambil manfaat atau kemuliaan karena layanan yang diberikan.

Siapa yang mau? Dalam kancah politik pragmatisme, materialisme, praktek politik tidak tahu malu. Bahkan cenderung jauh dari sikap etis, sehingga sikap menjadi pelayan adalah alientnis (sikap berasal dr dunia lain),aneh,janggal dan akan terlibas.

Sementara itu,tuntutan normatif akan prinsip-prinsip good governance yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas dan partisipatif  serta dan prinsip dalam UU Pelayanan Publik, UU Aparatur Sipil Negara bahkan konstitusi sejalan dengan prinsip servant.

Baca Juga  Kerahkan Kaum Milenial, Barisan Muda PAN Total Menangkan Bima-Dedie | Headline Bogor

Lalu, kenapa yang normatif jauh panggang dari api bila direfleksikan dengan praktek politik umumnya? Inilah jagat jungkir balik. Dalam situasi ini, kita percaya spirit bernegara kita telah dituangkan dalam konstitusi dan UU yang linier dengan ajaran sang guru maka kita tidak boleh putus asa untuk mengikuti teladan sang Guru. Menjadi pelayan di antara sesama.

 

Salam Sang Pembela, Sugeng Teguh Santoso, SH

(Calon Walikota Bogor 2018)