OPINI – Masyarakat dunia hari ini dihadapkan dengan era dimana kondisi masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat, sulit untuk mengindentifikasi perilaku masyarakat secara akurat, suatu permasalahan saling berkaitan satu sama lain, serta sulitnya menilai suatu peristiwa secara objektif.
Era ini diistilahkan dengan VUCA. Gina Ilmi Santoso dalam website actconsulting.co tahun 2018, menuliskan bahwa isttilah ini pertama kali diperkenalkan dikalangan militer oleh Benins dan Nanus melalui bukunya tentang kepemimpinan yang berjudul Strategies for Taking Charge (1985).
Era ini berpengaruh terhadap kondisi masyarakat dalam berbagai bidang. Misalnya dalam pendidikan, budaya, bahkan keagamaan. Kenyataan ini perlu direspon secara serius agar dapat diarahkan kepada suatu keadaan masyarakat yang dicita-citakan bersama. Jika diamati dari segala bidang yang telah disebutkan itu, titik temunya ada pada cara padang manusia yang berimplikasi pada perilaku hidupnya.
Ada 3 faktor yang mesti dijadikan landasan manusia dalam memandang peristiwa ini yaitu; Iman, Ilmu pengetahuan, dan Kreatifitas. Dan ketiganya itu dapat diusahakan melalui pendidikan dalam arti yang lebih luas (lingungan keluarga, organisasi, dan lembaga pendidikan formal).
Iman secara etimologi berarti percaya, namun dalam pengertian yang lebih jauh iman sangat erat kaitannya dengan keyakinan kepada Tuhan. Dengan demikian manusia yang selama hidupnya disemangati oleh keimanan yang kuat, hanya akan menaruh segala harapannya serta sandaran nilai kehidupannya kepada Tuhan. Karena menaruh harapan dan sandaran hidup kepada sesuatu selain kepada Tuhan, dan sebagaimana sifat dari sesuatu itu relatif (selalu berubah) berdasarkan ruang dan waktu, dengan secara otomatis orientasi hidup yang berimplikasi pada perilaku atau usaha masayarakatpun akan berubah-ubah pula akibat apa yang menjadi sandaran nilai hidupnya pun berubah-ubah atau bersifat relatif.
Bahkan berpotensi terjadi kekacauan pada tatanan masyarakat. Dapat dilihat dari bangkrutnya sistem Eropa Timur. Nurcholish Majid dalam bukunya Islam Doktrin dan Peradaban, menyebutkan bahwa sistem Eropa Timur yang Maxis-Leninis itu adalah sebuah percobaan yang paling bersungguh-sungguh untuk melepaskan manusia dari peranan agama (sistem nilai keTuhanan). Alasannya ada dua yaitu (1). Kaum Marxis tidak mampu benar-benar menghapus agama disana. (2). Marxisme seniri telah menjadi agama pengganti (quasi religion) yang lebih rendah dan kasar.