KOTA BOGOR – Perkembangan teknologi yang kian maju ternyata tidak hanya membawa efek positif, namun juga efek negatif bagi penggunanya. Salah satunya menjadi sarana tindak pidana prostitusi online.
Sejumlah aplikasi daring kerap dijadikan alat oleh Pekerja Seks Komersil (PSK) mucikari, maupun calon konsumennya untuk bertransaksi seks bebas. Melalui aplikasi-aplikasi tersebut, calon konsumen dengan bebasnya berselancar memesan PSK yang diinginkannya secara online.
Sementara para PSK maupun mucikari, melalui aplikasi tersebut, juga dengan gampangnya mendatangkan diri yang kerap dikenal dengan ‘Open Booking Online (Open BO)’.
Banyak pegiat sosial maupun relawan menyoroti bahwa salah satu penyebab terbesar kasus-kasus penularan virus HIV-AIDS yang semakin hari semakin menggunung itu akibat berhubungan seks bebas bukan dengan pasangan secara tidak aman.
Terkait fenomena tersebut, Direktur Yayasan Lembaga Kajian Sosial (Lekas) Bogor, Muksin Zaenal Abidin, menegaskan bahwa pihaknya sangat setuju jika aplikasi-aplikasi yang berbau prostitusi online tersebut diblokir.
“Aplikasi-aplikasi yang mendukung berkembangnya prostitusi harus diblokir! Makanya pencegahan HIV-AIDS itu perlu kerja sama dan sinergitas semua pihak, terutama pemerintah,” katanya di sela acara Media Briefing Peringatan Hari Keluarga Nasional dalam rangka Pencegahan Penularan HIV-AIDS di Hotel Rizen Pajajaran, Kota Bogor, Senin (3/7).
“Berkurangnya tempat prostitusi bukan berarti prostitusi berkurang dan potensi penularan HIV-AIDS juga berkurang. Justru berkembangnya prostitusi online melalui aplikasi lebih sulit dikontrol karena setiap orang bisa langsung bertransaksi seks secara langsung,” ungkapnya.
Lebih lanjut Muksin memaparkan kondisi kasus HIV-AIDS di Kota dan Kabupaten Bogor sudah mengkuatirkan sebab Bogor merupakan urutan kedua terbesar di Jawa Barat.
“Data sampai 2022 terdapat 1.750 kasus HIV dan 851 kasus AIDS di Kota Bogor. Dan 6.058 kasus HIV dan 1.865 kasus AIDS di Kabupaten Bogor. Dan yang lebih menguatirkan HIV-AIDS penularannya sudah merambah ibu rumah tangga dan anak-anak,” ungkap Muksin.
“Pencegahan HIV-AIDS butuh perhatian dan support serius pemerintah. “Selama ini kami lebih banyak mendapat dukungan dari donor. Kalau dari APBD sulit,” tandasnya. (DR)