Menurut Fadhlan, materi yang disampaikan dalam aksi tersebut bukan sekadar tudingan, melainkan didasarkan pada kajian akademis dan substansi persoalan yang ingin mereka sampaikan kepada pemerintah maupun aparat penegak hukum.

“Padahal yang kami sampaikan substantif dan memiliki kajian akademis, tapi kami dikatai monyet,” tuturnya.

Selain dugaan penghinaan secara verbal, Fadhlan mengaku massa aksi juga mendapat perlakuan fisik ketika berupaya menyampaikan aspirasi. Ia menyebut dirinya sempat didorong dan mendapat tindakan yang menurutnya berpotensi membahayakan.

Baca Juga  Hari Pencoblosan Makin Dekat, Relawan HADIST Kencang Sosialisasi | Headline Bogor

“Kami didorong, kami mau dipukul. Kepala saya tadi hampir diinjak. Di atas kepala saya ada PDL mereka. Saya dipelototi, saya dipukul, saya didorong dan akan di-smack down,” ungkapnya.

Fadhlan mempertanyakan tindakan tersebut di tengah upaya mahasiswa menyampaikan kritik dan aspirasi di ruang publik.

“Hari ini ini demokrasi di Kabupaten Bogor. Ini suara rakyat didengarkan oleh para penguasa, tidak seolah tidak didengarkan sama sekali, tapi langsung begitu saja,” katanya. (SND)