Kesibukan Haedar Nashir dalam mengurus Muhammadiyah, tidak menjadikan Haedar lupa dan melupakan tanggungjawab akademiknya sebagai dosen. Haedar tetap melaksanakan tugas catur dharma perguruan tinggi, Mengajar, memberi kuliah kepada mahasiswa, membimbing, menguji, melakukan riset, menulis jurnal internasional bereputasi dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini terasa cukup istimewa ditengah kesibukan dalam menahkodai organisasi Islam modern terbesar di dunia saat ini. Tugas melayani masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk kunjungan ke pelosok-pelosok tanah air menyapa penggerak perubahan di grassroot, bahkan sampai ke panggung internasional ditunaikan penuh dedikasi bersamaan dengan tugas dan perannya sebagai seorang cendekiawan kampus tanpa kehilangan karakter intelektual organik.

Baca Juga  Ini Target Rektor Didik Notosudjono Untuk Tingkatkan Prestasi Unpak

Sebagai akademisi, Haedar Nashir terbilang sebagai penulis yang produktif, banyak karya tulisan yang diterbitkan baik berupa artikel lepas, buku utuh dan paper hasil penelitian. Hingga pada puncaknya, pada hari ini Doktor Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Sosiologi.

Dari deretan panjang karya dan sepak terjang Haedar, tergambar dengan jelas betapa kuat perhatian, komitmennya pada Islam dan keindonesiaan, yang semuanya bermuara pada moderasi yang autentik. Faham keislaman yang moderat, tengahan, damai dan toleran yang ditopang dengan kondisi sosial bangsa yang majemuk menjadikan Haedar mempunyai pemikiran, sikap dan tindakan yang meletakkan moderasi sebagai sebuah jalan menuju kedamaian dan kemajuan berbangsa. Moderasi politik Haedar adalah menjaga bangsa dan merawat keberagaman Bersama.

Baca Juga  Gaji ke-13 dan Tunjangan Guru Tetap Aman Meski Ada Efisiensi Anggaran

Dalam konteks Moderasi, Haedar adalah sosok yang anti kekerasan, dirinya sangat sensitif jika menyaksikan kekerasan dalam bentuk apapun.

Dari karya-karya beliau tercermin pandangan keislaman dan keindonesiannya, yang merefleksikan pemikiran, sikap dan posisi Haedar sebagai seorang tokoh dan simbol dari Moderatisme Islam yang Berkemajuan. (*)