SKS Indonesia dan SKS Amerika.
Saya kutip dari buku almarhum Soenjono Dardjowidjojo, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bahwasanya dari buku petujuk SKS dan pengalaman pribadi penulis jelas kelihatan bahawa SKS kita sangat mirip dengan sistem yang diterapkan di Amerika. Namun demikian, ada satu perbedaan tajam yang melandasi masing-masing, yakni, titik pandang mengenai pendidikan
Di negara Amerika jenjang pendidikan universitas memang sama sperti di sistem baru kita, 4 tahun untuk gelar bakelorat (S-1 kita), sekitar 2 tahun untuk master (S-2 kita), dan sekitar 3 tahun untuk doktoral (S-3 kita). Akan tetapi, arti dari masing-masing jenjang ini berbeda.
Gelar beklorat amerika adalah gelar pertama di amerika adalah gelar pertama di universitas dan penyandang gelar ini tidak diharapkan telah memiliki ilmu yang tuntas di bidangnya. Dia masih merupakan seorang generalis yang pertama mempelajari banyak macam ilmu tetapi tidak menalami satu pun.
Kurikulum untuk tingkat ini juga di buat sesuai dengan pandangan bahwa pemegang gelar ini diharapkan mempunyai cakrawala keilmuan yang luas tetapi belum mendalam. Pelaksanaan dari pandangan ini ialah bahwa pada tamatan SMTA masuk universitas, dia tidak langsung di masukan ke fakultas, apalagi jurusan, tertentu.
Dia adalah mahasiswa tak-berjurusan dan diwajibkan mengambil sejumlah mata kuliah yang memberikan bekal dalam menyoroti hidup ataupun karir di masa depan. Kelompok mata kuliah yang dijuluki “core requirements” ini umunya terdiri dari sekitar enam kelompok ilmu, (1) bahasa inggris sebagai alat komunikasi 15 kredit, (2) logika 3 kredit, (3) peradaban dunia 6 kredit, (4) humanitas 9 kredit, (5) ilmu-ilmu alam 9 kredit, (6) ilmu-ilmu sosial 9 kredit.