Awal terbentuknya sistem SKS untuk tingkatan sarjana (S1) itu sistem dahulunya layaknya diatas dan pada sekitar tahun kedua dimulai menjajagai matakulah-matakuliah yang menarik hatinya untuk membantu membulatkan niat memilih jurusan. Baru pada tahun ketiga pilihan ini betul-betul dilaksanakan. Pada saat itu dia tentunya sudah akan tahu bahwa dia berbakat di bidang ilmu tertentu dan tidak di ilmu yang lain sehingga tidak ada gunanya memaksakan diri untuk akhirnya toh jatuh juga, SKS di indonesia merupakan suatu perkawinan yang agak dipaksakan.

Disatu pihak jiwa SKS memberikan fleksibilitas pada mahasiswa untuk memilih dan menentukan bakatnya sendiri, tetapi dipihak lain SKS yang kita impor di terapkan pada sistem lama dimana mahasiswa telah dikotak-kotakan ke dalam lubang-lubang akademik yang sempit.

Pada gambaran (overview) diatas nampak bahwa SKS merupakan suatu inovasi dalam pendidikan kita, tetapi inovasi dalam wujud wadahnya saja. Isi nya kita ramu sendiri sesuai dengan pandangan dan keadaan kita. Karena body nya adalah BMW sedangkan mesinnya Mercy maka timbullah ketidakserasian di sana sini.

Baca Juga  Negara Tidak Boleh Justifikasi Rasisme Dan Papua Phobia Dengan Kriminalisasi Rakyat Papua

Dari gambaran di atas nampaklah bahwa SKS samasekali tidak mengurangi, apalagi menutup, dinamika mahasiswa dikampus. SKS justru memberi peluang yang lebih besar kepada para mahasiswa untuk aktif dan kreatif. Pada istilah “aktif” dan “keatif” inilah barangkali orang berbeda pendapat. Bagi orang mendefinisikan kedua istilah ini dari segi kegiatan ekstrakulikuler seperti perlombaan menyanyi, pendakian gunung, pembuatan WC untuk masyarakat, kerja bakti pembersihan kota dan lain-lain, maka dinamika mahasiswa kita cukup tinggi.

Baca Juga  NURHAYANTI LEPAS 1119 PESERTA KKN Universitas Ibnu Khaldun

Mereka yang mengharapkan adanya kebebasan mimbar untuk berdiskusi ilmiah mengenai berbagai masalah. Khusunya yang bersifat sosio-politis, untuk mencari scientific truth akan merasa bahwa mahasiswa kita kini mungkin kurang dinamis. kurang dinamisan ini mungkin tidak disebabkan oleh sifat inheren mahasiswa masa kini, tetapi oleh paktor-paktor lain.

Nama : M. Lutfi Sopyan

(Mahasiswa Universitas Pakuan Bogor)