Menurut jenderal yang mempelopori suksesnya program “Citarum Harum” itu, prajurit TNI juga harus memiliki jiwa kemanusiaan guna membantu mengurangi kesulitan rakyat tanpa harus menunggu perintah atau instruksi. Oleh karena itu, Doni mengharapkan agar para prajurit dapat menjadi pelopor yang memberi solusi bagi kesulitan rakyat khususnya dalam bidang lingkungan.
“Jangan menunggu komando atau insturksi. Kita harus tanamkan dari hati dan jiwa dalam rangka mengatasi kesulitan rakyat,” kata Doni.
Menyinggung mengenai masalah kebencanaan dan lingkungan, mantan Sekjen Wantanas itu juga mengharapkan agar kebencanaan masuk ke dalam kurikulum TNI. Hal itu penting mengingat wilayah Indonesia berada dalam kawasan ‘ring of fire’ dengan berbagai ancaman bencana alam dan masyarakat memiliki kerentanannya masing-masing di tiap-tiap daerah. Selain itu, Doni tidak ingin jika nantinya prajurit TNI menjadi lemah karena minimnya kapasitas tentang penanggulangan bencana, karena masalah kebencanaan juga menjadi urusan seluruh sektor termasuk TNI.
“Masalah kebencanaan harus masuk kurikulum TNI. Karena semakin lama kita semakin lemah. Kita berada di negara dgn ancaman bencana alam seperti geologi, hidrometeorologi, kerusakan lingkungan dan sebagainya,” ungkap Doni.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNPB juga menyinggung masalah karhutla yang melanda sebagian besar wilayah Kalimantan termasuk Provinsi Kalimantan Barat. Menurut catatan orang nomor satu di BNPB itu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi penyumbang emisi gas efek rumah kaca terbesar di dunia akibat kebakaran lahan dan gambut.