OPINI – Selamat siang seluruh masyarakat Bogor, baru baru ini pejabat daerah dengan menggemparkan kota hujan, yaitu Kepala Dinas sosial dengan begitu lantangnya mengatakan hal hal yang tidak seharusnya disampaikan kepada publik masyarakat bogor melalui media dengan pernyataannya yang tidak sesuai dengan fakta integritas lapangan dan data aktual yang terlampir.
Sebuah fenomena yang mencengangkan karena terminal baranangsiang sebagai kawasan premanisme itulah diksi yang membuat saya selaku mahasiswa sekaligus bagian masyarakat bogor geram akan statement kepala dinas sosial, bahkan sampai ada kalimat rawan kejahatan. Seharusnya kepala dinas sosial bisa melampirkan dugaan tersebut dengan data faktual bukan hanya sekedar opini yang membuat masyarakat khawatir dengan perkataannya
Kalimat yang sangat ambiguitas bagi masyarakat awam, pada dasarnya terminal baranangsiang ini merupakan ikon sejarah dan center bagi pengguna fasilitas yang menunjang bogor dalam hal ekonomi kerakyatan yang seharusnya diperhatikan lebih oleh pihak pemkot dengan kondisi yang jauh dari kata layak untuk sekelas terminal baranangsiang tipe A
Wibawa pemerintah menurun dengan perkataan kadinsos yang memberikan label premanisme dan akan diadakan razia besar besaran bahkan sampai diturunkannya pihak keamanan, sebaiknya pihak dinsos atau pemkot menyelidiki lapangan untuk mencari data apakah yang dikatakan kepala dinsos tsb sesuai di lokasi terminal baranangsiang.
jangan membuat resah sehingga masyarakat bogor dan pendatang dari luar kota enggan untuk singgah, ini warning besar bagi kita semua dengan perkataan tsb yang bisa membuat pengguna bis dan wisatawan untuk tidak datang berpergian ke bogor dengan menggunakan kendaraan bis yang ada di terminal baranangsiang, dan akan mengakibatkan peningkatan angka kesenjangan ekonomi bertambah.
Saya wajib mengoreksi perkataan premanisme yang seharusnya anda lemparkan kepada pejabat daerah/provisi/nasional yang sampai saat ini menahan anggaran dana untuk merenovasi dan memperbaiki fasilitas terminal yang bertipe A yaitu terminal baranangsiang, agar tidak memperlambat pencairan dana renovasi, karena dengan semakinnya lambatnya renovasi terminal baranangsiang akan menganggu jalannya aktivitas keseharian di terminal baranangsiang dengan minimnya fasilitas sesuai dengan tipe A.
(Fatarizky Muhamad selaku Presiden Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Politeknik AKA Bogor (IMAKA) dan ex. Koordinator BEM Se Bogor)