KOTA BOGOR – Setelah hampir dua tahun para siswa belajar daring, akhirnya Kota Bogor memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas serentak di 200 sekolah pada Senin (4/10). Dalam pelaksanaan hari pertama, ditemukan sejumlah siswa yang berangkat sekolah menggunakan angkutan umum, bahkan diantar orangtua atau menggunakan ojek online.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachiem mengatakan, temuan siswa naik angkot maupun ojek menjadi catatan bagi pihak sekolah dalam melaksanakan PTM. Dia tidak ingin siswa ketika berangkat dalam kondisi sehat, namun malah berpotensi tertular di perjalanan.

“Ada beberapa anak yang ke sekolah menggunakan sarana angkutan umum. Jadi harus ada treatment khusus. Jangan sampai di rumah steril, di sekolah steril, tapi di tengah-tengah ini rawan,” ujar Dedie ketika meninjau pelaksanaan PTM di SMPN 1 dan SMAN 1 Kota Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga  KPP Bogor Raya Resmi Miliki Legalitas Hukum, Tegaskan Kepengurusan Sah

Oleh karena itu, kata Dedie, sekolah dan komite harus bisa melindungi dan menjaga anak-anak agar tetap aman selama PTM di lingkungan sekolah. Juga, harus dibuat satu metode yang dikembangkan khusus untuk mencegah terjadinya paparan baru Covid-19.

Misalnya, sambung dia, anak-anak yang memakai angkutan umum, didisinfeksi memakai disinfektan chamber. Kemudian, dipastikan setiap ruangan ada beberapa petugas yang membawa disifektan dan melakukan disinfeksi.

Tentunya, kata Dedie, protokol kesehatan di sekolah harus dilaksanakan secara ketat. Hal itu sesuai dengan daftar periksa dari SKB 4 Menteri.

Baca Juga  Baru Tiga Bulan, Jalur Pedestrian Sudah Rusak

“Di rumah saya yakin juga anak-anak sudah divaksin, orang tua sudah divaksin, rumah juga Insya Alloh aman,” tutur Dedie.

Dia menambahkan, selama hampir dua tahun belakangan, hampir 40 ribu warga Kota Bogor terpapar Covid-19. Hari ini, tercatat 55 orang masih positif Covid-19, dan tiga orang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor.

“Jadi risiko dari pembukaan PTM ini harus ditekan semaksimal mungkin supaya tidak terjadi lagi paparan-paparan baru. Jadi mohon pada KCD (Kepala Cabang Dinas), kepala sekolah, dan tim komite sekolah untuk memperhatikan hal seperti ini,” kata Dedie.

(Ifan JS)