Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi para pedagang yang baru pindah. Salah satunya dirasakan oleh Rio, pemilik Toko Kue Kering “Tekad Nasution”, yang telah direlokasi sejak September 2025. Ia mengaku mengalami penurunan omzet selama masa transisi.

“Kami merasakan penurunan omzet karena sosialisasi dari pihak Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) dirasa masih kurang. Masalah parkir juga perlu perhatian, serta akses angkutan umum (angkot) yang saat ini belum melewati jalur utama pasar ini,” kata Rio.

Rio juga berharap pengelola pasar dapat lebih aktif menarik minat pengunjung melalui berbagai kegiatan promosi.

Baca Juga  Isu Direksi Perumda Tirta Pakuan Pakai Ijazah Palsu, Ini Kata Kabag Hukum Pemkot Bogor

“Kami meminta kepada pihak pengelola pasar agar sering dibuatkan event atau acara menarik, seperti yang dilakukan di Pasar Gembrong (Sukasari). Hal itu sangat penting untuk menjadi daya tarik agar pengunjung mau datang dan belanja ke sini,” tuturnya.

Menanggapi masukan tersebut, pengelola pasar menyatakan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi, terutama terkait infrastruktur pendukung. Koordinasi dengan dinas terkait juga akan dilakukan, khususnya mengenai trayek angkutan umum dan penyediaan area parkir yang lebih memadai.

Baca Juga  Headline Bogor | Pererat Kemitraan dan Sinergitas, PHRI Kota Bogor Sowan Ke PWI Kota Bogor

Ke depan, Pasar Jambu Dua diharapkan tidak hanya menjadi pusat transaksi jual beli, tetapi juga berkembang sebagai ikon pasar tradisional modern di Kota Bogor yang bersih, tertib, dan mampu bersaing dengan ritel modern. (DR)