Menurut Toni, kebijakan tersebut merupakan langkah progresif untuk membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini sekaligus menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim dan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino.

“Langkah Wali Kota Bogor, Pak Dedie A. Rachim, menetapkan regulasi menanam bagi pelajar adalah terobosan yang luar biasa. Ini bukan lagi sekadar edukasi di dalam kelas, melainkan penanaman karakter dan kesadaran kolektif sejak dini. Generasi muda dipaksa peduli terhadap krisis iklim lewat tindakan nyata. Kami di HPPMI siap mengawal dan berkolaborasi dalam penyediaan bibit maupun pendampingan teknisnya di lapangan,” tegas Toni.

HPPMI juga menyambut positif perkembangan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dinilai sebagai solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan dengan pendekatan yang lebih modern dan ramah lingkungan.

Baca Juga  Sapa Warga Perumahan, Achmad Ru'yat Dapat Banyak Dukungan | Headline Bogor

Ratusan pohon yang ditanam dalam kegiatan tersebut terdiri atas berbagai jenis pohon pelindung dan tanaman buah. Selain memberikan manfaat ekologis seperti menjaga cadangan air tanah dan meningkatkan kualitas lingkungan, pohon-pohon tersebut juga diharapkan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar pada masa mendatang.

Menjelang penutupan kegiatan, Toni kembali menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di Kota Bogor.

“Hari Jadi Bogor ke-544 ini harus menjadi momentum kebangkitan kolaborasi pemuda dan pemerintah. Menghadapi kemarau panjang akibat El Nino yang di depan mata, aksi penanaman pohon hari ini adalah ikhtiar konkret kita menjaga mata air agar tidak menjadi air mata di masa depan. HPPMI akan selalu berada di garda terdepan bersama Pemkot Bogor untuk memastikan lingkungan kita tetap lestari dan produktif,” pungkas Toni. (DR)